Berita Terbaru

Tuesday, October 30, 2018

Bangun Bitung PHK Karimang Tanpa Pesangon
by wepe - 0


Bitung—“Selamat Pagi, saya bisa bicara empat mata dengan bapak,” ungkap seseorang yang belum dikenal sama sekali mencegat langkah.

“Bapak kan wartawan, mohon saya dibantu. Saya tidak tau lagi mau kemana,”ungkapnya sambil mengambil tempat duduk disalah satu cafĂ© kota Bitung.
Setelah memperkenalkan namanya, Kidati Kirimang warga Kakenturan 2 dan pernah menjadi Mualim 2 di Kapal KMP Tude menceritakan kronologis hidupnya yang seolah-oleh dipermaikan oleh perusahaan Induk KMP Tude, PT Bangun Bitung.
“Entah kemana lagi saya mau bermohon, sebab sudah 2 kali saya masuk meminta hak saya sebagai karyawan namun tidak pernah dijawab oleh Direktur PT Bangun Bitung,” ungkapnya seraya membetulkan topi lusuhnya.
Diapun mengaku jika dia sudah 7 Tahun bekerja di KMP Tude namun tidak disangka kalau diperlakukan seperti ini. “Per 30 September lalu, saya diberhentikan oleh management PT Bangun Bitung dan tidak diberikan pesangon sama sekali, itupun tidak ada penjelasan sama sekali apa yang menjadi kesalahan sehingga saya diberhentikan,” ungkap lelaki tambun ini.
Bahkan diungkapkannya jika dalam 3 tahun terakhir ini dirinya bekerja seminggu penuh. “Makin banyaknya pengunjung ke pulau lembeh membuat kami KMP Tude harus bekerja sampai hari Minggu, tanpa ada kenaikan gaji,” jelas ayah 2 orang anak ini seraya menjelaskan kalau jangankan bertemu dengan keluarga masuk gereja pun kadang dirinya harus masuk gereja subuh hanya karena memenuhi panggilan pekerjaan.
Diapun menyesalkan jika persoalan karier di KMP Tude ini tidak jelas. “Jika saya tau seperti ini saya tidak menghabiskan masa kerja saya di kapal ini, padahal dulu saya pernah kerja di kapal luar. Hanya karena panggilan membangun Bitung maka saya tinggalkan pekerjaan saya yang dulu di kapal besar,” kata Karimang seraya menunjukan bukti-bukti fotonya ketika bekerja sebagai Mualim 2 di kapal dengan jalur angkungan Bitung pulau Lembeh ini.
Sambil membasuh keringatnya, Karimang pun menjelaskan kalau pihak Management berjanji akan memberikan uang jasa sebesar 2 Juta, namun dirinya enggan menerima dana ini, “Saya dijanjikan akan diberikan uang sebesar 2 juta, namun saya tidak terima sebab ada perhitungan khusus bagi karyawan yang akan menerima pesangon apalagi hanya akan menerima dana sebesar itu,” ungkapnya.
Diapun mencurigai jika pemecatan dirinya ini terjadi hanya karena dirinya ingin  mengetahui sejauh mana pendapatan kapal dan pas jalan penumpang. “Sebagai Mualim dua tentunya bertugas untuk mendata pas jalan penumpang sampai pendapatan kapal, dan hal ini tidak pernah diberitahukan kepada saya, semua diambil alih orang kantor PT Bangun Bitung,” katanya.
Sementara itu, salah satu pimpinan Management PD Bangun Bitung Yorry Sakul saat dikonfirmasi mengatakan kalau oknum tersebut sudah diberikan Surat Peringatan (SP) ke 3 setelah sebelumnya pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2017 diberikan SP 2 karena diduga berkonspirasi dengan nahkoda kapal menahan penghasilan kapal ditahun itu.
“Nah untuk SP3 ini diberikan karena oknum tersebut bersama dengan rekan-rekannya melakukan pemotongan penghasilan kapal sejak awal tahun sampai dengan bulan Maret rata-rata 50 ribu sampai 100 ribu per harinya, sehingga saat ditelusuri management merugi hingga 8,4 juta,”ungkapnya.
Diapun menceritakan jika untuk persoalan ini pihak management sudah menghargai dengan uang jasa sebesar 2 juta. “Jika mau lebih jelas maka kami akan melaporkan dugaan penggelapan ini kepada pihak kepolisian, namun karena mengingat jasanya yang telah bekerja maka kami berusaha memberikan uang jasa sebesar 2 juta namun oknum tersebut tidak mau menerima dengan harapan mendapatkan pesangon. Ini persoalannya sementara kemungkinan dugaan pengelapan yang dilakukan dia melebihi dari pesangon. Langkah inilah yang tidak diambil management mengingat pengelapan yang dilakukan oleh Karimang,” ungkap Sakul.(wepe)   

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment