Berita Terbaru

Tuesday, May 22, 2018

MENJAGA NAFAS KEBANGSAAN DENGAN PANCASILA
by fadjrin haryanto - 0




Oleh : 
Torkis T Lubis
Semangat kebangsaan di tanah air di tahun politik ini menghadapi banyak godaan dan tantangan antara lain ditandai dengan fakta fakta menyesakkan seperti rentetan serangan teroris, bentrok massa, aksi saling menghakimi, persaingan politik yang tidak sehat, beredarnya black campaign, masih belum terungkapnya koruptor kelas kakap dan perang melawan korupsi belum tuntas, segregrasi sosial sudah muncul benihnya, persatuan dan kesatuan yang mulai terganggu dengan banyaknya aksi massa, dampak aksi terorisme dan belum tuntasnya reformasi mental dengan ditandai intensnya moral hazard di semua level masyarakat.

Di ranah global, situasi ekonomi yang masih fluktuatif, munculnya sejumlah "ghost war" yang bermotif cukup beragam dalam skenario proxy war dan banyaknya penetrasi budaya asing baik melalui medsos, media online dan jalur komunikasi sosial termasuk sinetron-sinetron.

Adalah benar apa yang disampaikan Kepala BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Dr. Yudi Latif bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan kecerdasan kolektif untuk mengatasi tantangan kontemporer saat ini, dimana kecerdasan kolektif akan dapat mendorong munculnya semangat solidaritas sosial dan militansi kebangsaan, dimana keduanya merupakan esensi dari sila Persatuan Indonesia dalam ideologi negara kita, Pancasila.

Jika kita melakukan kontemplasi secara mendalam, memang ada kemungkinan perubahan strategis di ranah nasional dan global memiliki "final destination" yaitu ingin merusak persatuan negara, merampok sumber daya alam melalui plutarchy birokrasi dan menghancurkan masa depan bangsa dan negara yang disandarkan ke generasi muda dengan menawarkan "shifting ideology" yaitu skenario merusak kepercayaan generasi muda terhadap Pancasila.

Sejatinya, Pancasila adalah kecerdasan kolektif untuk tetap menjaga asa kebangsaan kita. Pancasila sudah didesain oleh sang Ilahi melalui para founding fathers bangsa sebagai mekanisme resolusi konflik mengatasi tantangan kekinian.

Persoalannya adalah diakui atau tidak pemahaman dan pengamalan Pancasila secara konsisten dan meluas kurang mendapatkan porsi yang memadai dalam kebijakan negara. Untungnya, Presiden Jokowi segera menyadari untuk menghadapi dekadensi moral dan degradasi kebangsaan, maka diperlukan revolusi mental, bela negara dan pendidikan Pancasila yang semakin masif dan kekinian dengan ujung tombaknya BPIP.

Kita harus percaya bahwa Pancasila bisa menjaga nafas kebangsaan. Pancasila juga bisa menciptakan kecerdasaan kolektif yang sebenarnya merupakan gabungan dari intelectual quotient, emotional quotient, spiritual quotient and nationship quotient dalam artian orang atau masyarakat yang berkecerdasan kolektif karena dia mengamalkan ajaran agama dan Pancasila sehingga mereka tidak mau menjadi rabble-rousers, detractor ataupun procastinator melainkan problem solver bagi masalah kebangsaan yang dihadapi negara tercintanya. Dia adalah Pancasilais sejati.

Penulis adalah alumni KRA ke 56 Lemhanas. Sedang berusaha mengikuti tes sebagai salah satu Deputi di BPIP.
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment