Berita Terbaru

Sunday, March 25, 2018

Dengar Palakat di Kampung Adat Menembo-nembo, Billingual
by wepe - 0

Warga adat Manembo-nembo saat Kerja bakti bersama sabtu lalu.



Bitung—Mangkal di salah satu rumah warga kelurahan Manembo-nembo sempat terkejut ketika di luar rumah ada orang berteriak-teriak dengan mengunakan pengeras suara dengan kata-kata pembuka Dengar Palakat.

Kata-kata yang sudah 25 Tahun tak pernah pernah terdengar, kini jelas ditelinga meski saat ini sudah dimodifikasi dengan pengerah suara. Nostalgia jaman bahula para maweteng mengemban tugas pemerintahan kini terlihat jelas di Negeri Adat Manembo-nembo. “Dengar Palakat dikase tau, Api dan Lampu harap di jaga baik-baik,” lanjut pembawa berita tersebut.

Bukan hanya itu saja, segala bentuk kegiatan kelurahan diumumkan olehnya. “Jangan lupa besok hari ada kerja bakti masal pukul delapan Pagi sehingga semua masyarakat harus berpartisipasi,” teriak orang yang terakhir diketahui adalah salah satu kepala Lingkungan di kelurahan ini.
Rasa penasaran membuat wartawan harus mencari sumber suara tersebut. Benar, kendaraan Pick Up dengan pengeras suara jenis Toa berada di ladbak dengan sopir dan kepala Lingkungan duduk dibagian depan. 

Palakat pun dilanjutkan berulang-ulang kali disetiap lingkungan, tanpa ada rasa terganggu dengan orang-orang yang harus keluar rumah mencari sumber suara. 

“Kami merasa bangga dengan terobosan pengurus adat negeri Manembo-nembo, karena dengan begini informasi bisa secepatnya kami dapat,” ungkap Stenly Walo warga kompleks kamnas (kampung Nenas) manembo-nembo.

Tak hanya itu saja, dari penuturan Wulandari Putri pendatang baru dari Makasar mengakui jika acara dengar palakat ini sangat membantu warga. “Kami di Makasar tidak ada seperti ini sehingga jika mau mencari informasi harus ke kantor Kelurahan dulu,” ungkapnya.

Pun demikian, dari pantauan wartawan pada sabtu akhir pekan lalu, warga masyarakat tumpek blek di setiap jalanan negeri adat guna kerja Bakti. “Siapapun dia harus kerja bakti, bahkan pernah kepala Lingkungan membangunkan Wakil Walikota untuk kerja bakti,” ungkap Sandy Kaunang saat menceritakan kejadian seorang kepala Lingkungan mengajak Wakil Walikota Kerja Bakti.

“Ini keputusan pemangku adat, sehingga harus dipatuhi semua warga negeri adat,” jelas Kaunang.
Lurah Kelurahan Manembo-nembo, Frangky Johan Lengkong saat ditemui wartawan membenarkan apa yang dikatakan warganya tersebut.

 “Bahkan untuk dengar palakat sejak minggu lalu sudah mengunakan 2 bahasa, bahasa daerah kemudian terjemahannya dalam bahasa Indonesia,” katanya.

Keputusan Pemangku adat, menurut Lengkong ini harus diterjemahkan oleh pemerintah kelurahan, karena pihaknya selaku Lurah sangat terbantu dengan adanya Pemangku adat ini.

Memang menurutnya, untuk Pengumuman ini dilakukan tidak setiap harinya tapi dilakukan jika ada sosialisasi-sosialisasi dari pemerintah atau pemberitahuan dari pemangku adat. 

“Setiap Bulan mungkin dilakukan 5 sampai 6 kali tergantung informasi dari pemerintah dan pemangku adat,” kata Lengkong yang ayahnya dulu pernah menjabat sebagai Hukum Tua Manembo-nembo dengan Julukan Kuntua Nyoa.

Tak hanya itu saja keputusan adat yang juga menyolok adalah saat adanya acara duka. “Semua warga diminta sebisanya untuk tidak pergi ke Kebun ataupun kerja saat ada ibadah penguburan semuanya focus pada kegiatan di duka dan membantu warga yang sedang kedukaan,” ungkapnya.(wepe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment