Berita Terbaru

Monday, February 5, 2018

Kemenhub Klarifikasi Disnav Soal Demo 8 Januari?
by wepe - 0




Tim pengawas saat melakukan arahan kepada pegawai di Distrik Navigasi Bitung

Bitung—Diduga untuk menindaklanjuti demonstrasi organisasi adat Minahasa Presidium Esa Keter, yang mencurigai pejabat Kantor Distrik Navigasi Kelas I Bitung yang tidak menghormati kearifan lokal pada Senin 8 Januari 2018 lalu, tim pengawas Kementerian Perhubungan, mendatangi kantor tersebut. 

Informasi yang berhasil dirangkum  wartawan 8 pejabat Badan Kepegwaiain Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Biro Kepegawaian Kementerian Perhubungan Laut Pusat ini, memanggil para pegawai dan memintai keterangan terkait dugaan tidak menghormati kearifan lokal. 
Tak tanggung-tanggung, para pegawaipun dimintai keterangan mengenai beredarnya surat yang berisi informasi mengenai tak dihormatinya Kearifan Lokal dalam surat tersebut. “Mereka bertanya mengenai ketidakhadiran pejabat dalam kegiatan kerohanian, kami membeberkan, memang tak ada yang datang saat perayaan kegiatan keagamaan di Distrik Navigasi,”ujar sumber yang meminta namanya tidak dikorankan.
Sumber lain mengungkapkan, pertanyaan seputar demo Esa Keter pun ditanyakan tim pusat, termasuk siapa dalang demo. “Kami ditanyakan juga mengenai adanya THL yang tidak diterima menjadi THL padahal sudah lama bekerja,” jelas sumber.

Terpisah, Kepala Distrik Navigasi Kelas I Bitung, Taufik Mansur SE, saat akan dikonfirmasi membenarkan jika memang ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang ditanyakan tim. “Namun kedatangan mereka yang paling utama adalah soal Sumber Daya Manusia atau arahan Pengarahan karier pegawai, Akreditasi serta sarana dan prasarana di kantor kami,” katanya.
Diapun mengakui memang ada pertanyaan soal demo kearifan lokal, namun dirinya membantah semuanya. “Saya sudah menjelaskan ke tima jika tak ada persoalan sara di kantor ini dan sudah menjelaskan kepada tim soal keberangkatan Nahkoda kapal bertepatan dengan hari raya keagamaan,” ungkapnya seraya mengatakan kalau para Nahkoda yang berangkat tersebut tidak keberatan apalagi mereka berangkat tanggal 25 desember sore. “Kapal baru dengan nama KMP Miangas yang akan dibawa ke Bitung harus bergeser dari Batam tanggal 28 Desember sehingga perlu persiapan dan kursus membawa kapal bagi nahkoda, dan pelatihan membawa kapal itu dilaksanakan pada 26 dan 27 Desember, anak buah kapal dan koki lainnya berangkat ke batam tanggal 27 desember untuk bergabung dengan tim yang akan membawa kapal dari batam ke Bitung,” ungkapnya seraya mengatakan jika mekanisme anggaran harus dilakukan penyerahan pada akhir tahun.
Sementara soal adanya THL yang dipecat, dirinya mengatakan jika alasan pemecatan ini tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan sara. “Satpam yang satu kenapa sudah tidak dipanggil kerana memang tidak memasukan permohanan kontrak, kalau satpam yang satu lagi terkesan tidak ramah. Karena saat pimpinan masuk dia terkesan diam dan tidak mau berdiri layaknya memberikan penghormatan kepada siapa saja yang masuk,” ungkap Mansyur.
Dia sendiri menjelaskan jika ada persoalan lain apalagi persoalan agama itu tidak mungkin. “Saya bisa seperti ini, karena saat masih bawahan saya dididik dan dibantu promosi oleh pimpinan saya yang notabene berlainan agama dengan saya, apalagi orang tua mantu saya semuanya beda agama dengan saya sehingga saya terlatih dengan toleransi,” ungkapnya.
Namun menurutnya, dia lebih melihat kecakapan/kepatuhan dan keahlian dari pada persoalan lainnya. “Bahkan jika yang se agama dengan saya jika dia tidak mau maju, tidak mau belajar akan saya suruh istirahat dan belajar dulu. Saya ini nasionalis dan di era pemerintahan saat ini semua harus menunjukan kualitas bukan kedekatan apalagi soal agama,” tutupnya.(wepe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment