Berita Terbaru

Thursday, February 1, 2018

Diduga Pelindo Jadi “Biang Kerok” Kerusakan Lingkungan Bitung
by wepe - 0



GM Petikemas dan GM Pelindo Diperiksa DLH
 
Ratusan Hektar bentang alam di Bitung dirusak galian C seperti di Kelurahan Tewaan ini (Foto:epang)
Bitung—Pemotongan bentang alam tanpa ijin yang didominasi oleh Galian Pasir yang terjadi di Bitung mulai tak bisa terelakan. Bahkan ratusan Ha lahan sudah di obok-obok tanpa ijin, apalagi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hanya kelurahan Apela satu yang bisa dijadikan lokasi galian pasir selain itu tidak bisa. “Sepengetahun saya hanya kelurahan Apela satu bisa dijadikan lokasi galian pasir sesuai dengan RTRW kecuali RTRW direvisi baru bisa,” ungkap Neldy Kalangi pemerhati lingkungan Bitung.


Galian C Di Sagerat Weru
Diapun menduga jika Reklamasi Pelindo dan Jalan Tol memberikan kontribusi besar dalam kerusakan ini. “Kedua instansi inilah yang paling bertanggung jawab, sebab jika mereka melakukan filter terhadap ijin galian pasir yang masuk di Pelindo dan Jalan Tol tentunya tidak separah ini kejadiannya,” ungkapnya.
Diapun meminta kepada pemerintah kota Bitung melalui pihak dinas Lingkungan Hidup agar dapat melakukan fungsi kontrol kepada konsumen pasir tersebut. “Harusnya sebagai instansi pemerintah, pelindo, Jalan Told dan DLH bisa berkoordinasi dan jangan sampai mempergunakan pasir dari halian c Ilegal alias tanpa ijin,” ungkap Kalangi lagi.
Bekas Galian di Kelurahan Tewaan, depan bekas TPA Tewaan
Sementara dari informasi yang didapat wartawan General Maneger Pelindo dan GM Petikemas dipanggil pihak Dinas Lingkungan Hidup terkait kerusakan Lingkungan ini. “Tadi pihak GM Pelindo dan Petikemas dipanggil dan menghadap kepala dinas, mungkin terkait pasir yang digunakan di Pelindo,” kata sumber di DLH yang enggan namanya dikorankan ini.
Kepala DLH Bitung Sadat Minabari saat dikonfirmasi membenarkan jika kedua pimpinan pelindo tersebut datang ke DLH. “Memang benar pimpinan pelindo datang kemari, untuk berkordinasi agar sebaiknya mengunakan Galian pasir yang telah mempunyai ijin untuk reklamasi, karena dengan begitu berarti semua galian c yang punya ini itu sudah melalui kajian Lingkungan,” ungkap Minabari.
Soal kepedulian dari pemerintah, diungkapkan Minabari jika Tahun 2017 lalu, pihak DLH sudah menutup 17 Galian Pasir Illegal dan Tahun 2018 ini DLH sudah menutup 2 Galian Pasir Illegal. “Saya kira pemerintah lewat pak Walikota dan Wakil sangat konsen dengan Lingkungan Buktinya sudah puluhan Galian C yang di tutup, namun para pengusaha pasir ini sedkit pintar dan berpindah-pindah tempat,” jelas Minabari lagi.
Galian Pasir yang berada di dekat Sungai Sagerat

Sementara itu, GM Petikemas Bitung I Made Gautama saat dikonfirmasi membenarkan jika dirinya dipanggil oleh Pihak DLH. “Namun kita hanya monitoring program saja disana tidak bicara kerusakan lingkungan,” katanya.
Diapun membantah jika Pelindo menjadi biang kerok kerusakan Lingkungan di Bitung. “Kan yang mengunakan pasir ini bukan hanya pelindo, namun ada jalan tol serta ada pasir yang dikirim keluar Bitung lewat kapal Tongkang,” sebutnya.
Galian Pasir berkedok pematangan Lahan di Sagerat
Mengenai ada ijin atau tidaknya galian pasir yang digunakan untuk reklamasi pelindo, dirinya mengaku tidak tau. “Saya tidak tau persoalan itu karena kontraktor dan suplaier yang mengaturnya,” Kata Gautama. Apalagi menurut pihaknya semua pasir yang masuk ke pelindo mempunyai persyaratan khusus. “Semua dokumen kan ada dan itu ada di suplaier bahan pelabuhan,” ungkapnya.(wepe)

Bekas Galian Pasir di Tendeki

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment