Berita Terbaru

Thursday, February 8, 2018

Ancam Bakal di Penjara, Kini Jenifer Bisa Sekolah Lagi
by wepe - 0


Pendidikan Jenifer yang mampu diselamatkan ketiga orang berseragam Putih Hitam ini


Bitung—Matahari pagi sudah mulai meninggi, tak tergesa-gesa lagi dirinya seperti dulu jika mau ke Kantor apalagi  laki-laki ganteng ini, sudah tidak lagi dibebankan tugas sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) dinas Pendidikan Kecamatan Madidir akibat dari keputusan pemerintah pusat yang telah membubarkan UPT Pendidikan sejak Oktober oleh  Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo lewat  keputusan nomor 12 tahun 2017 tentang pedoman pembentukan dan klasifikasi cabang dinas dan unit pelaksana teknis daerah (UPTD). 

Berbekal, Motor dinas saat menjadi pejabat lalu, Steven Bari berjalan pelan menuju tempat tugasnya di dinas Pendidikan kota Bitung. Tak berapa lama, dirinya harus berpapasan dengan seorang anak perempuan usia sekolah tak berseragam ketika dia melewati pemukiman Perum Wale Hunian Sagerat.
“Ini sangat mengangguku, padahal sudah sekitar 5 meter saya melewatinya,” cerita Bari.  
Tak tunggu lama, akhirnya Mio plat merah yang dikendarainya berputar menyambangi anak ini. “Kenapa nda sekolah, dek,” kata Bari. Meski terasa asing, perempuan muda itu langsung menjawab jika dirinya sudah tidak lagi sekolah. “Kenapa”  Tanya balik Bari. Ditanya seperti itu,  anak yang terakhir diketahui bernama  Junifer Juita Sasela itu tak bisa menjawab dan langsung masuk rumahnya.
Dasar orang orang pendidikan, Bari tak mau menyerah. 
Diikuti langkah sang perempuan ini masuk rumahnya. “Selamat Pagi, selamat pagi,” sapa Bari di depan pintu.  Terdengar dari dalam rumah suara balasan selamat pagi.
Dari balik kamar keluar sang ibu rumah tangga  yang berjalan tergopoh-gopoh, memegang sandaran kursi. “Ya, kenapa,” tanya sang ibu.  
Sebelum menjawab, mata Bari tertuju pada Kaki perempuan itu.
Sedikit terejut memang ketika mengetahui jika lawan bicaranya menderita kaki gajah bahkan ada lilitan kain serta obat makatana di kakinya. “Maaf bu, katanya ade sudah tidak bersekolah lagi, betul?” Tanya Bari.  
Sang ibupun menceritakan Kronologis sehingga Jenifer tidak sekolah lagi. “Sebenarnya Jenifer sudah ambil surat pindah untuk pindah sekolah di Modoinding karena akan dibiayai saudara disana, namun Jenifer sendiri tidak mau kesana sehingga kami putuskan untuk tidak usah sekolah, karena kami sendiri sudah tidak mampu lagi,” kata Nona Languyu Ibunda Jenifer. 

Diapun sempat menceritakan jika tempat yang ditinggalinya tersebut sudah dijual oleh pemilik rumah yang pertama dan oleh pemilik kedua, keluarganya  harus keluar pada Januari lalu.

“Sebenarnya kami sudah harus keluar dari rumah ini, namun karena kami tidak tau mau tinggal dimana lagi sehingga  kami masih harus bertahan disini,” ungkap nyonya dari keluarga Sasela languyu ini.
Mendengar keluhan tersebut Bari pun mengertak sang ibu sesuai dengan aturan yang ada. “Jika ada orang tua yang membiarkan anaknya tidak sekolah maka, hukumannya adalah penjara, lho bu, apalagi saat ini Pemkot Bitung mempunyai program MaMa Cepat yang kepanjangannya adalah Cerdas Peduli Anak Tidak Sekolah yang semuanya sudah ditangung pemerintah, ” gertak Bari.

Mendengar hal itu, sang ibupun kembali menuturkan jika dirinya memang berkeinginan menyekolahkan Jenifer, namun karena keadaan sehingga seperti ini. “Cepatunya sudah robek, Bajunya sudah sempit bahkan buku-bukunya sudah penuh,” aku ibu yang bersuamikan seorang buruh bangunan ini.  
Belum selesai bicara, Bari langsung memotong . “Jika itu yang menjadi halangan biar nanti menjadi tanggung jawab kami soal perlengkapan Jenifer,” tegas Bari seraya berdiri dan memanggil Jenifer. “Jenifer mau sekolah kan,” bujuk pendidik ini. 

Dengan semangat, sang anak menyangupi pertanyaan itu, sembari menoleh ke arah Ibunya. “Iya, nak. Silahkan jika kamu mau sekolah,” jawab sang Ibu seolah mengetahui maskud dari tatapan Jenifer.
Raut muka gembira Jenifer sangat jelas terlihat.  “Terima kasih om,” katanya pendek.
Tak hanya Jenifer, Nona Languyu sendiri terlihat gembira mendengar kabar itu.

Setelah Pamitan, Bari pun langsung memacu motornya dengan semangat menuju kantor. Tak sabar menunggu sampai di kantor. Masih dijalan, pria itu langsung mengambil ponselnya dan berkoordinasi dengan Kepala Bidang Dinas Benny Bolang tanpa menunggu sampai  di kantor. “Kita buat saja surat pembatalan terhadap surat pindah, sehingga Jenifer bisa sekolah di SMP negeri 6 Sagerat,” ungkap Bolang memberikan solusi disebrang komunikasi ponsel ini.

Keesokan harinya, Duet mantan pimpinan UPT ini melaksanakan tugasnya untuk  menyekolahkan kembali Jenifer.
Bolang mendapatkan Giliran membuat surat pembatalan sampai pada Perubahan administrasi data pokok peserta didik (Dapodik), sementara Bari mengurus persiapan perlengkapan Jenifer.
Dua hari kemudian, setelah berkoordinasi dengan kepala SMP 6 Sagerat S Rotty. Bolang dan Bari menjemput Jenifer di Rumahnya. 

Akhirnya siswa kelas 8 ini bisa sekolah, Belajar dan berkumpul bersama dengan teman-temannya di SMP yang pertama kali ditemui ketika memasuki kota cakalang.


Terpisah, Kadis Pendidikan Kota Bitung, Julius Ondang SPd MSi mengatakan, pihanya sangat mendukung program MaMa Cepat, karena terkait erat dengan Dinas yang dipimpinnya. “Ini harapan Pak Wali, dan yang dilakukan personil saya, membuktikan, kami sangat mengsukseskan program MaMa Cepat,”ungkap Ondang. (wepe)

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment