Berita Terbaru

Wednesday, January 31, 2018

Siswa kelas 3 SD dan Keke Minahasa Tulen Isi Acara Tulude
by wepe - 0




 
Gabriela Daniela Muhaling dan Ayahnya saat Gladi bersih kemarin
Bitung—Pergelaran prosesi adat Tulude yang di kota Bitung pada (31/1) sebentar di Dermaga Samuel Languyu Satkamla TNI AL pukul 14.00 nanti sebagian acaranya akan diisi oleh Siswa kelas 4 SD Gabriela Daniela Muhaling sebagai pemotong Kue Tamo. Uniknya lagi pada pelaksanaan Manulude kali ini Doa akan disampaikan oleh Keke Minahasa Tulen Pdt Juli Jacklin Masengi Senduk Sth dalam bahasa Sangihe

Wartawan media dalam jaringan (daring) ini mencoba menemui kedua orang ini disela-sela gladi bersih kemarin (30/1).
Meski malu-malu, Gabriela Daniela Muhaling yang didampingi ayahnya Semuel Muhaling mencoba menjawab pertanyaan wartawan. “Dulu saya pernah ikut lomba potong kue tamo saat sekolah di Sitaro,” jawabnya malu-malu sambil memeluk lengan ayahnya. Dia sendiri merasa bangga dengan bahasa daerah yang dipergunakan ini. “Ini bahasa kami sehari-hari dirumah, sehingga tidak akan sulit nantinya saat memotong kue tamo,” ungkap siswa kelahiran 1 April 2008 ini.
Tak hanya itu dirinya menginginkan acara Tulude ini terus dilaksanakan oleh pemkot Bitung karena ini merupakan syukuran atau puji syukur kepada Tuhan atas anugerah setahun yang diberikannya. “Ayah bilang jika kegiatan seperti ini harus dilakukan terus agar kota kita diberkati dan diberikan kelimpahan oleh Tuhan,” jelasnya seraya melihat wajah ayahnya.
Pdt Juli Jacklin Masengi Senduk Sth
Di petak tenda yang lain, terlihat seorang ibu berkulit putih layaknya ibu-ibu Minahasa lainnya bergaya sederhana dengan tas kecil di lengannya duduk bersama seorang perempuan. Dia adalah  Pdt Juli Jacklin Masengi Senduk Sth yang mendapatkan kesempatan membawa doa dalam bahasa daerah Sangihe pada acara tersebut. Ibu 3 anak ini, mengaku tidak risih membawa doa dalam bahasa Sangihe meski dirinya belum pernah berkunjung ke pulau Sangihe. “Saya lahir di tetey Minahasa dan besar di  Minahasa Utara namun saya sempat bertugas selama 6 tahun di pulau Lembeh sehingga tidak masalah dengan bahasa Sangihe,” jelas calon Master Teologi ini.
Dirinya mengaku jika selama bertugas di Gunung Woka kecamatan Lembeh Utara sering sekali meminta belajar bahasa Sangihe kepada jemaat disana. “Apalagi di Gunung woka sampai saat ini semua orang  mempergunakan bahasa Sangihe dalam kesehariannya, sehingga mengharuskan saya yang bertugas disana menguasai bahasa Sangihe,” jelasnya.
Dirinya mengaku untuk kegiatan tulude ini dia memang mempersiapkan diri sebaik mungkin. “Semuanya harus dipersiapkan karena doa ini bukan untuk peserta Tulude tapi disampaikan kepada Tuhan sehingga kata-kata indah harus disyairkan agar semua yang kita kehendaki dapat diaminkan Tuhan,” katanya seraya menambahkan jika doa yang akan dibawahkan dalam bentuk sastra Sangihe.(wepe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment