Berita Terbaru

Tuesday, August 8, 2017

Kapolsek Sario siap dilapor ke Propam
by fadjrin haryanto - 0

AKP Tommy Aruan.

MANADO, SMCOM—Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Samrat 2017 yang digulirkan aparat kepolisian di wilayah hukum Polda Sulut, kembali menuai sorotan. Pasalnya, kegiatan operasi tersebut masih saja ditemukan cara bertindak yang dianggap tidak sesuai prosedur. Hal ini pun dilakukan personil Polsek Sario dibawah pimpinan AKP Tommy Aruan SH SIK, kepada pihak korban toko Twelve Wine and Liquor, di jalan Kembang, Kecamatan Sario Manado.

Kejadian ini terjadi, Minggu (6/7) lalu. Awalnya, Kapolsek memimpin personilnya masuk ke dalam toko tersebut. Disini, petugas langsung melakukan aksi mengangkat puluhan minuman keras berbagai merek dan memasukan ke dalam kendaraan. Mirisnya lagi, tanpa penjelasan kepada korban, petugas pun turut menyita puluhan botol minuman yang hanya menjadi pajangan.

“Toko kami ini memiliki izin. Tapi mereka main angkat dan sita. Ada juga minuman yang kami pajang mereka bawa, padahal ada tulisan not for sell (tidak untuk dijual). Mereka pilih yang mahal-mahal dan langsung angkat saja. Mereka datang tidak membeber maksud dan tujuan. Ketika tiba mereka hanya bilang, boleh lihat. Jadi karyawan izinkan untuk melihat (minuman yang dipajang). Saat itu juga mereka langsung main angkat minumannya. Ada yang dipajang, sedangkan yang lainnya berada di kamar. Setelah mengambil semua minuman yang dipajang dan di dalam kamar, barulah mereka bilang kalau sedang menjalankan Operasi Pekat,” beber Cikal Viscana, anak pemilik toko Twelve Wine and Liquor, Senin (7/8) kemarin.

Pihak korban pun sangat menyesalkan tindakan penyitaan yang dilakukan Kapolsek Sario bersama personilnya, yang dinilai merupakan tindakan inprosedural. “Karena waktu masuk, mereka tidak menanyakan soal izin. Izin itu ada pada kami. Tapi mereka tidak tanya. Setelah semua barang diisi didalam dos mereka baru tanya soal izin. Tapi mama sudah kesal duluan. Mama bilang, angkat saja,” katanya.

Korban pun kecewa, sebab anggota yang mengangkat puluhan botol minuman tersebut tidak disaksikan pihaknya. Menurut korban, anggota dengan enteng menyita minuman tersebut, tanpa menghitung berapa jumlahnya bersama pihak korban. “Tidak ada yang menyaksikan berapa botol yang mereka ambil. Mereka main ambil seperti pencuri. Setelah semua sudah di dalam dos, mereka memaksa kami untuk tanda tangan berita acara penyitaan. Tapi kami menolak. Tidak mau kami tanda tangan, kami takut jangan sampai kami tertipu. Barang yang diambil puluhan lalu, di dalam berita acara penyitaan hanya ditulis belasan. Jadi kali ini kami menolak,” akunya.

Tak hanya itu, Cikal juga membeberkan soal aksi kekerasan yang dialami kakaknya, Christy Vanessa. Dimana,  salah satu oknum petugas pengayom masyarakat dari Polsek Sario sempat melakukan aksi arogan. “Tangannya sampai memar. Sampai sekarang masih memar. Jadi waktu kami dipaksa untuk tanda tangan berita acara, ada oknum polisi yang rekam-rekam kami. Kakak saya menolak, karena posisi kami waktu itu ada di dalam kamar. Saat itu juga salah satu polisi langsung memukul tangan kakak saya sampai memar,” jelasnya.

Akibat perbuatan itu, Cikal dan kakaknya akan menempuh jalur hukum dan melaporkan aksi kekerasan dan penyitaan inprosedural yang dilakukan Polsek Sario ke Mapolda Sulut. “Kami akan membuat laporan resminya di Polda,” tutupnya.

Sementara itu, Kapolsek Sario Tommy Aruan, ketika dikonfirmasi awak media belum bisa memberikan penjelasan soal aksi penyitaan, sekaligus kekerasan yang menimpa pemilik toko Twelve Wine and Liquor. “Besok aja datang ke Polsek untuk konfrmasi,” singkatnya.(erel)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment