Berita Terbaru

Wednesday, July 12, 2017

OTT IMB FIK Unima diduga direkayasa
by fadjrin haryanto - 0

(foto: ist)


MANADO, SMCOM—Operasi tangkap tangan (OTT) pungutan liar (Pungli) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Universitas Negeri Manado (Unima) mengungkap fakta mencengangkan. Terungkap, jika prosedur penangkapan OTT terhadap terdakwa MBSE alias Marlon, diduga direkayasa oleh pihak Polres Minahasa bersama korban Bambang Irjayanto. Hal tersebut diungkapkan terdakwa, saat menjalani agenda pemeriksaan saksi di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor), Selasa (11/6) kemarin.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Alfi Usup dan Hakim Anggota Halidjah Waliy dan Emmy Eliana, terdakwa menjelaskan kronologis penangkapannya. Awalnya saat itu terdakwa sementara melaksanakan pekerjaan di kantornya, tiba-tiba dirinya dihubungi via telepon oleh Bambang dan meminta terdakwa bertemu dengannya untuk menyerahkan  uang Rp20 juta tersebut. Namun terdakwa meminta untuk membawa uang tersebut di kantor. "Saya sampaikan, bawa saja di kantor. Kan prosedur sesuai aturan yang ada, pembayaran tersebut tidak boleh dilakukan di luar kantor. Namun saat itu Bambang katakan dirinya akan pergi ke kota Bitung," jelasnya.

Terdakwa pun menambahkan, selang beberapa waktu kemudian dimana terdakwa sudah berada di rumah, tiba-tiba dirinya kembali dihubungi Bambang dan kembali mengajak bertemu untuk menyerahkan uang tersebut. "Saya pun kaget, tadi dia bilang akan ke Bitung, tiba-tiba dirinya sudah berada di Tondano," ungkap korban. Terdakwa pun akhirnya menuruti permintan korban dan keduanya janjian bertemuan di Pompa Bensin Boulevard Manado. Setelah sampai di lokasi, kedua pun langsung bertemu, dan Bambang pun menyerahkan uang tersebut kepada terdakwa. Selesai menyerahkan uang tersebut, bambang langsung pergi dengan mobilnya.

Menariknya saat terdakwa ingin mengunci tas berisi uang tersebut, tiba-tiba polisi langsung menahan tangannya dan mengatakan bahwa dirinya telah melakukan OTT. "Polisi sebut saya OTT, saya pun heran OTTnya dimana," ungkapnya. Atas hal tersebut terdakwa pun langsung ditangkap dan digiring ke pihak kepolisian. Mendengar hal tersebut hakim lantas menunda persidangan dan melanjutkan pada pekan depan dengan agenda tuntutan.

Diketahui kasus ini dijelaskan berawal laporan Bambang yang kala itu mendapatkan proyek pembangunan Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Unima tahun 2014. Kala itu tersangka meminta pembayaran IMB sebesar Rp100 juta. Namun karena korban merasa tidak sanggup akhirnya terjadi deal keduanya dengan pembayaran Rp40 juta. Namun dalam proses pengurusan tersangka kembali meminta biaya tambahan sebanyak Rp20 juta. Hingga akhirnya korban membayar secara keseluruhan Rp60 juta.

Kejadian pungli ini pun terjadi pada Tahun 2016, saat bambang mendapat proyek pembangunan gedung Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unima. Disitu tersangka kembali meminta biaya pengurusan dengan dipatok harga sebesar Rp30 juta, dengan saksi Ismail Suni selaku utusan korban.
Sempat terjadi negosiasi tawar-menawar antara pelaku dan pihak yang hendak mengurus IMB. Tersangka kemudian sepakat biaya pengurusan dipatok sebesar Rp20 juta dan disalurkan dana tersebut dengan terpaksa oleh Bambang. Padahal, setelah dicek sesuai aturan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB), biaya pengurusan hanya dikenakan pajak Rp13.325.000.

Dalam artian ada selisih yang diterima terduga sebesar Rp6.675.000. Adapun nama perusahaan yang mengurus IMB tersebut yakni PT Gunung Bulukumba. Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 11 huruf e UU No 31 tahun 1999 jo No 20 tahun 2001 tentang Tindak Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Namun sangat disayangkan prosedur penangkapan ini diduga telah direkayasa.(rees)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment