Berita Terbaru

Monday, June 12, 2017

Satukan perspektif dalam visi membuat pasar menjadi baik
by fadjrin haryanto - 0

Dari Diskusi Pasar dan Buka Bersama 
pedagang pasar di kota manado 

SUASANA Silaturahim begitu kental dalam “Diskusi Pasar dan Buka Bersama” pedagang pasar di Kota Manado
yang digelar di Djarod, Jumat (9/6) pekan lalu. Tampak Dirut PD Pasar Alfrets Ferry Keintjem berjabat tangan dengan
Ayub Ali Albugis.(foto: fadjrin/sk)


MANADO,SMCOM-Kondisi memanas yang menyertai penataan yang dilakukan Perusahaan daerah (PD) Pasar Kota Manado, di sejumlah pasar dan aset PD Pasar Manado di daerah ini, kian meningkat sebulan terakhir ini.  Upaya yang dilakukan BUMD Kota Manado menda-patkan reaksi yang terin-dikasi dilakukan sejumlah oknum yang selama ini me-nikmati “zona nyaman” dari keadaan semrawut yang berjalan sebelum ini. Hanya saja, tak ingin terpancing sinyalemen untuk melakukan aksi tandingan, PD Pasar Kota Manado lebih mengedepankan dialog un-tuk mencoba mengurai se-gala permasalahan serta aspirasi yang sedang dikedepankan para pedagang. Disadari, bahwa aksi unjuk rasa adalah upaya terakhir jika segala cara tidak berhasil dilakukan untuk membenahi persoalan-persoalan yang muncul. 

Difasilitasi para penginisiatif yang berasal dari sejumlah aktivis yang peduli dengan langkah-langkah memajukan Kota Manado—dengan menjadikan pasar sebagai salah satu instrumen yang akan dibuat menjadi lebih baik sebagai salah satu sasarannya—, lahirlah diskusi pasar yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama yang melibatkan PD Pasar Kota Manado sebagai pengelola dengan para pedagang yang beraktivitas di pasar-pasar yang ada di Kota Manado. “Kepentingan kami adalah ingin Kota Manado ini maju, karena itu adalah kepentingan umat, atau kepentingan kita bersama. Pasar yang menjadi salah satu parameter lingkaran masalah, tentu menjadi salah satu bagian yang harus diurai persoalannya sehingga dapat dicari solusi untuk penataannya ke depan, sehingga menjadi lebih bagus tentunya. Jika pasar menjadi lebih bagus, berarti akan terjadi peningkatan kesejahteraan bagi para pedagang yang melakukan aktivitas jual beli di dalamnya. 

Ini adalah tujuan kami, demi kepentingan umat, yang dalam hal ini adalah komunitas masyarakat kami,” beber Syarif ‘Aie’ Darea, pelaksana kegiatan—yang bersama Comel Pakaya dan Udin Pedju adalah penginisiatif diskusi pasar dan bukber pedagang ini—, sebagai kata pengantar dalam kapasitasnya sebagai moderator, sebelum diskusi yang dilaksanakan di kawasan Djalan Roda (Djarod), Jumat (9/6) pekan lalu itu dimulai. Ditambahkan Pakaya, dalam pembicaraan usai iven tersebut, bahwa apa yang dilakukan mereka bertiga bukan dukungan kepada PD Pasar Kota Manado. “Jangan baca ini sebagai cara kami untuk mendukung PD Pasar Kota Manado, tetapi ini adalah cara kami berjuang. Kami tidak mendukung person atau institusi, tetap kami mengamankan apa saja yang dilakukan untuk segala hal yang bermuara pada kepentingan umat,” tegas figur yang juga dikenal sebagai penggiat sepakbola ini. 

Karenanya, mereka berkeinginan agar semua pihak bisa menahan diri dan bisa menyatukan perspektif demi memajukan pasar-pasar tradisional yang ada di Manado sehingga bisa sejajar dengan pasar-pasar modern yang mulai banyak tumbuh di ibukota bumi Nyiur Melambai ini.  “Kita harus bisa sama-sama kompak, dan harus jeli menilai apa yang sudah terjadi di pasar selama ini. Jangan mau lagi dimanfaatkan demi kepentingan segelintir oknum yang hanya akan membawa kesesatan. Demi kepentingan umat kita harus berjuang bersama, karena nantinya manfaatnya akan dirasakan lebih banyak orang,” pungkas Pedju.

Diskusi pasar itu sendiri menghadirkan Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Kota Manado Alfrets Fery Keintjem SE sebagai narasumber utama, dengan Ketua Peringatan Hari-hari Besar Islam (PHBI) Sulut Syahrul Surya Poli SE sebagai narasumber pendamping dalam diskusi yang juga diikuti pimpinan PD Pasar Kota Manado. Seperti Ketua Badan Pengawas PD Pasar Kota Manado Drs Helmy Bachdar, Direktur Umum Hendra Novrianto S SPd, Direktur Operasional Drs Didi Sjafi’i, dan Direktur Pengembangan Usaha Tommy Sumelung SH. Juga hadir aktivis pemuda Baso Affandi, staf khusus Walikota Manado Abdul Rahman Musa (ARM), anggota DPRD Sulut Ayub Ali Albugis yang dikenal sebagai Ketua Himpunan Pedagang Shoping (HPS), anggota DPRD Manado Nurrasyid Abdulrachman (Katune) dan Syarifudin Sa'afa, serta sejumlah pemerhati pasar, masyarakat komunitas Djarod dan wartawan peliput. 

Dirut PD Pasar menjadi pembicra awal. Momentum ini dipakai Keintjem untuk menjelaskan visinya menjadikan pasar tertata dengan baik, termasuk administrasinya, demi implementasi dari visi-misi GS Vicky Lumentut dan Mor D Bastiaan yang adalah Walikota dan Wakil Walikota Manado saat ini. Dimana penataan pasar adalah bagian di dalamnya. Karenanya, Keintjem menegaskan penataan pasar-pasar tradisonal yang berada di Kota Manado ini harus diikuti dengan penegakkan aturan. “Sebab itu saya mengedepankan slogan BERSIH TEGAR, yang kepanjangannya adalah berhikmat, santun, indah, tegakkan aturan. Slogan ini menjadi spirit bagi kami, untuk selalu bekerja keras dan santun untuk membuat pasar menjadi indah, dengan tentu berharap selalu ada hikmat dari Tuhan, untuk kemudian melakukan penegakkan aturan,” ungkap sosok yang dikenal sebagai orang ekonomi ini.

Lebih lanjut, mantan Ketua Perbanas Sulut ini menyampaikan bahwa sejumlah pembenahan, termasuk pemberlakukan pembayaran iuran sesuai peraturan direksi (Perdis) yang dilakukan institusinya ini sebagai bagian dari menegakkan aturan yang berlaku. Dan Keintjem kembali menegaskan apa yang dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan bersama. 
“Apa yang saya dan teman-teman di PD Pasar Manado lakukan saat ini semata-mata untuk memajukan pasar di Manado, dengan misi mendorong pasar tradisional untuk bisa bersaing dengan pasar modern. Kemudian, penegakkan aturan dan penertiban yang kita lakukan sudah sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk biaya pajak maupun notaris, itu sudah sesuai prosedur,” urai alumnus Fakultas Ekonomi Unsrat Manado ini.

Keintjem juga mengisahkan bagaimana awalnya dirinya terkejut dengan kondisi menajemen PD Pasar Kota Manado, yang tidak termenej dengan baik. “Karena itu secara perlahan kami mencoba membenahinya. Untuknya mohon kami diberi waktu dan dukungan untuk mengurai segala persoalan yang ada guna mencari solusinya. Menurut saya, pembenahan pasar tak hanya membutuhkan akuntabilitas dan transparansi, tetapi juga harus ada partipasi publik. Sebab itu kami mengapresiasi teman-teman yang berinisiatif menggelar diskusi pasar yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama hari ini. Ini merupakan bagian dari kami untuk membuka ruang partisipasi publik,” pungkasnya.

Usai Keintjem, tampil Syahrul Poli sebagai pembicara kedua. Mantan anggora DPRD Sulut ini tak banyak berbicara, namun tetap berharap agar penataan pasar bisa dilakukan untuk menjadikan pasar lebih baik. “Kami mengapresiasi apa yang dilakukan PD Pasar Manado, tapi kami juga berharap agar jangan mengorbankan para pedagang,” ujar Ketua Badan Pengurus Yayasan Sulawesi Utara, yang membawahi STIE Sulut ini. Diskusi mulai menghangat ketika dibuka ruang dialog, lewat sesi tanya jawab. Mantan anggota DPRD Manado Jubair Ladiku dan Juru Bicara Pedagang Kelompok 14 Pasar Bersehati Sjahbudin Ardin Noho (SN), menjadi penanya dalam session ini. Ladiku menyorot kenaikan iuran yang tinggi.

“Memang ada hal-hal positif yang dilakukan Dirut PD Pasar Manado, tapi ada kebijakan Dirut seperti menaikkan harga sewa kios atau retribusi yang sesungguhnya sangat memberatkan pedagang. Karena harus diingat, perusahaan daerah juga harus memperhatikan aspek pelayanan. Selain itu, ada pedagang yang mengeluhkan kalau Dirut terlalu otoriter,” katanya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Keintjem mengatakan bahwa kenaikan yang dilakukan adalah bagian dari menjalankan amanat aturan. “Karena rekomendasi BPK terhadap hasil pemeriksaan tahun 2013-2014 adalah penagihan iuran yang harus ditagih sesuai aturan. Karena itu, kami harus menagih sesuai aturan, dalam hal ini Perdis,” jawabnya.

Selanjutkan tampil SN yang kembali menyinggung soal keabsahan Perdis No.1 Tahun 2016. Menurutnya Perdis tersebut cacat hukum dan ilegal. Begitu juga dengan Peraturan Daerah (Perda) no 1 tahun 2013 tentang Pengelolaan Perusahan Daerah Pasar yang dinilai tak sempurna. Ia juga mempertanyakan pembayaran sewa kios yang menurutnya tidak sesuai dengan Perdis 01/2016. Dengan demikian, mantan caleg Dapil Tuminting-Bunaken dari PAN ini menyebut Dirut PD Pasar Manado telah menyalahi Perdis yang dibuatnya sendiri.

“Kami menolak berlakunya Perdis No 1 tahun 2016, karena menurut kami perdis tersebut cacat hukum. Dan juga dengan Perda 1 tahun 2013 yang menjadi cantolan hukum Perdis, tak menjelaskan secara rinci besaran nilai sewa/kontrak dan retribusi, kami anggap juga tak sempurna. Kami anggap pihak PD Pasar telah menjalankan praktek melanggar hukum atas penerbitan Perdis tersebut. Kami juga melihat ada selisih cukup besar dari pembayaran yang dilakukan pedagang. Misalnya di Perdis menjelaskan ukuran yang harusnya dibayarkan Rp800 ribu tapi menjadi Rp4 juta. Selisihnya dikemanakan? Selain itu, dalam Perdis tegas melarang berjualan di lokasi terlarang, tapi nyatanya Dirut memberikan pembiaran kepada pedagang yang berjualan dilokasi terlarang dan menarik pungutan. Juga ada nominal sewa harganya lain didalam Perdis, tetapi penerapannya lain,” ketusnya.
Hanya saja, tuntutan SN sempat menimbulkan perdebatan. Aif sang moderator menganggap SN tak konsisten, sehingga meminta agar SN tidak ambigu dalam menyampaikan sikapnya. “Ini kan lucu. Di satu sisi menolak Perdis, tetapi di sisi yang lain menuntut pemberlakukan harga sewa sesuai Perdis,” kata Aif memotong diskusi dalam kapasitasnya sebagai moderator yang meminta kejelasan pertanyaan.

Saat menjawab, Keintjem menjelaskan bahwa tidak ada sewa kios yang menyalahi Perdis. “Memang kalau dibandingkan terjadi perbedaan. Tetapi harus dilihat dahulu bahwa perjanjian kontraknya sudah berubah. Bukan lagi sewa lahan, tetapi sudah berubah menjadi sewa kios. Dan itu harga sewanya semua ada di Perdis dan kami tidak menyalahinya. Mengapa kemudian berubah dari sewa lahan menjadi sewa kios, itu terkait permohonan yang diajukan pedagang dari Kelompok 14 Pasar Bersehati kepada kami di PD Pasar Kota Manado. Dan ini merupakan kebijakan kami untuk tetap mengakomodir para pedagang untuk berjualan, padahal sudah sejak tahun 2014 tidak lagi membayar iuran,” jelas salah satu pengurus Koperasi Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia ini.

Situasi sempat memanas karena mulai menjurus ke debat. Karenanya, Aif sebagai moderator kemudian mempersilakan ARM untuk memberikan pendapat hukumnya. Mengawalinya, ARM menegaskan bahwa Perdis tersebut sah karena merupakan turunan Perda No.1 tahun 2013. “Awalnya, saya ikut bersama para pedagang pasar untuk melaporkan pihak PD Pasar ke Polda. Waktu itu saya belum tahu kalau sebenarnya Perdis tersebut ada cantolan hukumnya. Tapi, dengan berjalannya waktu, saya disodorkan Perda No 1 tahun 2013, yang isinya menjadi cantolan hukum dari Perdis tersebut, dan akhirnya saya menyadari kekeliruan ini. Karena itu, Perdis tersebut sah secara hukum. Perda No.1 tahun 2013 yang jadi cantolan hukum Perdis tersebut, sudah sangat jelas isinya. Di situ disebutkan wewenang direksi dalam menentukan kebijakan tarif di pasar. Menurut Pasal 7 ayat 1 dan 2 Perda No.1 tahun 2013, disebutkan penentuan besaran tarif adalah kewenangan direksi. Ini sudah sangat jelas, tak perlu dipertentangkan lagi,” ucapnya dengan nada tinggi.

Soal dugaan penyalahgunaan Perdis, ARM mengatakan tidak benar. “Yang dilakukan oleh pihak PD Pasar yang menurunkan biaya sewa dari nilai 700 ribu menjadi 600 ribu, merupakan kebijakan PD Pasar. Dan itu tidak melanggar hukum. Harga yang ditagihkan tidak melebihi batas atas harga yang tercantum pada Perdis. Dan itu sah sah saja,” tegasnya. Agar suasana lebih terkontrol, moderator langsung mempersilahkan Umar ‘Endi’ Jamil tampil. MC yang profesinya adalah pelawak itu kemudian mencairkan suasana dengan melafazkan ayat-ayat Al Qur’an sebagai persiapan berbuka puasa, di momentum yang memang telah memasuki saat berbuka. 
Usai berbuka puasa acara dilanjutkan dengan penyerahan bantuan dari PD Pasar ke anak-anak yatim. Juga ada penyerahan bantuan ke PHBI Sulut, yang diterima langsung Syahrul Poli sebagai ketuanya. Meski secara formal diskusi telah berakhir, namun dialog masih terus berlanjut dalam kelompok kecil. Keintjem pun dengan sigap melayani pertanyaan para peserta diskusi yang belum puas dengan jawaban dalam diskusi tersebut.(efh)


« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment