Berita Terbaru

Sunday, October 23, 2016

Sering dapat penghargaan di Yogya, sayang tak ada perhatian Pemprov Sulut
by donwu - 0

PARA penari Maengket yang terdiri dari gabungan mahasiswa Sulut di Yogyakarta, saat pentas Tarian Maengket di Zero Point Malioboro Yogyakarta, tepatnya di lapangan Monumen Serangan Umum 11 Maret, Sabtu (22/10/2016) malam, memukau turis lokal maupun mancanegara. Inzet: Lesza Lombok, Ketua Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Sulut, yang juga Ketua Asrama Mahasiswa Sam Ratulangi 1 Yogyakarta.
YOGYAKARTA, SMCOM—Sering diundangnya para mahasiswa Sulut di Yogyakarta secara rutin setiap tahun untuk mengambil bagian dalam acara kebudayaan, Pemprov Sulut seharusnya memberikan perhatian yang lebih, dikarenakan identitas budaya Sulut merupakan tanggung jawab semua warga Sulut, terutama pemerintah.

Tak ada perhatiannya Pemprov Sulut juga terbukti saat mahasiswa Sulut di Yogyakarta diundang ikut dalam sebuah pertunjukan kebudayaan di Zero Point Malioboro Yogyakarta, tepatnya di lapangan Monumen Serangan Umum 11 Maret, pada Sabtu (22/10/2016) malam. Mahasiswa Sulut memukau pengunjung dengan penampilan Tarian Maengket.(baca: http://www.swaramanado.com/2016/10/bawakan-maengket-mahasiswa-sulut-di.html)

"Adik-adik yang merupakan anak-anak muda terbaik Sulut ini sudah sangat sering mendapatkan penghargaan kebudayaan di sini (Yogyakarta, red). Di antaranya, Penghargaan Budaya dari Universitas Kristen Duta Wacana sebagai Penampil Terbaik dalam Gelar Budaya UKDW 2015, dan Penghargaan sebagai Tarian Terbaik (Tari Kabasaran) dalam Gelar Budaya Kota Yogyakarta awal tahun 2016 ini", ujar Lesza Lombok, Ketua Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Sulut, yang juga Ketua Asrama Mahasiswa Sam Ratulangi 1 Yogyakarta yang hadir memberikan support pada acara tersebut.

Lanjutnya, Asrama Mahasiswa Samratulangi 1 Yogyakarta yang sering dijadikan tempat pertemuan dan latihan anak-anak muda ini, selalu melaporkan berbagai kegiatan putra-putri terbaik Sulut ke Badan Penghubung Provinsi Sulut lewat kewajiban Laporan Triwulan mereka. Oleh karena itu, hal ini harus menjadi perhatian yang serius dari Pemprov Sulut. 

“Selain untuk menjaga harkat dan martabat kebudayaan Sulut di negeri orang, hal ini juga menjadi sebagai salah satu promosi wisata daerah yang sangat potensial untuk menyerap wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, dikarenakan dilakukan di daerah yang tingkat kunjungan wisatawannya sudah sangat banyak dan multinasional,” ungkap Lesza.


Ke depannya, mereka berharap, Pemprov Sulut dapat mengalokasikan pendanaan untuk kegiatan kebudayaan Sulut yang dilakukan oleh mahasiswa di perantauan seperti ini. Selain untuk menjaga kualitas pertunjukan kebudayaan Sulut, juga bisa menjadi salah satu bentuk penghematan anggaran di bidang kebudayaan, karena tidak harus mengalokasikan dana tiket pesawat pulang pergi lagi. “Semoga kreativitas putra-putri terbaik Sulut ini berbau harum bagi masyarakat Sulut, dan menjadi motivasi bagi masyarakat dalam menjaga kebudayaannya,” harap dosen Unima ini.(dsw)

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment