Berita Terbaru

Sunday, October 16, 2016

Pesparawi P/KB GMIM di Amurang dinilai penuh intrik dan kepentingan
by donwu - 0

Sammy Poeloe, pemerhati dan pekerja paduan suara.
MINSEL, SMCOM—Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejaei (Pesparawi) dalam rangka HUT Pria/Kaum Bapa (P/KB) GMIM ke-54 yang sementara digelar di Amurang, Kabupaten Minsel, dinial penuh dengan intrik dan kepentingan. Pasalnya menurut Sammy Poeloe, pemerhati dan pekerja paduan suara, kegiatan ini tidak lagi murni sebagai pertandingan iman dalam kepelayanan P/KB sebagaimana seharusnya, khususnya di kategori middle.

“Hal ini terbukti dengan tidak taatnya sebagian peserta maupun panitia, terlebih pengkhianatan Inspektur Pertandingan, terhadap komitmen hasil technical meeting. Dimana salah satu keputusan yaitu pertandingan berlangsung selama 3 hari dan berakhir pada setiap jam 12 malam (24.00 Wita, red) dengan jadwal naik panggung yang telah ditentukan,” ujar Poeloe kepada Swara Kita Group, Minggu (16/10/2016) sore.

Dia sangat mensesalkan, dimana pada hari kedua, pertandingan tetap dilanjutkan meskipun sudah lewat pukul 24.00 Wita, dan anehnya peserta untuk hari kedua telah tampil semua. Tetapi 15 peserta yang seharusnya tampil pada hari ketiga diizinkan naik panggung pada hari kedua, sehingga lomba selesai sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.

“Hal ini berarti merugikan bagi peserta yang akan tampil pada hari ketiga. Dan jelas mengacaukan jadwal naik panggung di hari ketiga. Padahal setiap kategori telah ditetapkan satu orang Inspektur Pertandingan, dalam hal ini di kategori middle Bapak Ambro Siwi yang juga sebagai Sekretaris Pokja P/KB GMIM, yang nyatanya tidak mampu bertindak selayaknya dalam kapasitas sebagai Inspektur Pertandingan, dan malahan membiarkan hal itu terjadi,” tukas Poeloe.

Dirinya mengungkapkan, seharusnya ke-15 peserta harus tampil kembali pada hari ketiga dengan mksud mengembalikan jadwal naik panggung peserta yang telah disusun dan disepakati dan kepercayaan jemaat yang telah ditunjuk sebagai tuan rumah di hari ketiga, sehingga dalam hal ini tidak ada yang dirugikan.

Namun ada apa sebenarnya di balik semua ini? “Sesungguhnya ini bukanlah semata-mata persoalan champion atau tidak, tetapi lebih kepada persoalan moral pelayanan yang semestinya mengandung makna rasa takut dan tanggung jawab terhadap Tuhan Kepala Gereja. Akhirnya pertandingan seperti ini tidak lagi menjadi berkat, melainkan menjadi batu sandungan dan mengacaukan segalanya yang sudah diawali dengan baik,” tegas Poelos.

“Sudah saatnya P/KB GMIM harus tertib dan tunduk terhadap aturan sebagai konsekuensi seorang Kaum Bapa Gereja, yang mampu menciptakan hidup dalam kasih serta bina keesaan gereja sebagaimana sepenggal kalimat dalam lagu wajib Mars P/KB GMIM agar tidak hanya sekedar sebuah lagu yang dinyanyikan tanpa memiliki arti dan makna,” tandas Poeloe.(dsw)



« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment