Berita Terbaru

Friday, September 9, 2016

Anggota DPRD Sulut terlahir hasil perselingkuhan
by noberd losa - 0



MANADO,SM.COM - Dua tahun masa kerja anggota DPRD Sulut periode 2014-2019 dibawah kepemimpinan Andrei Angouw masih dibawah standart karena belum mampu menunjukan kinerja yang membawa pengaruh besar bagi daerah yang lebih disebabkan pada proses awal pencalonan yang salah dan lebih pada hasil perselingkuhan politik mengakibatkan kandungan politik yang tidak sehat. Seperti halnya yang terkuak dalam diskusi Forum Wartawan DPRD (Forward) Sulut bersama pengamat politik Sulut Ferry Liando dan Taufik Tumbelaka serta Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) North Sulwesi Corruption Watch (NSCW) Harold Lumempow pada Jumat (9/9) diruang rapat I DPRD Sulut.

Ferry Liando mengatakan peran angggota DPRD Sulut belum berpengaruh positif ke publik karena sistim awal seleksi pencalonan yang dilakukan partai mengusung calon anggota legislatif terlalu lemah.

"Yang dipikirkan partai hanya meraih kekuasaan parlemen dengan kursi terbanyak bukan kwalitas menyuarakan serta perjuangan aspirasi masyarakat,yang ada adalah pencalonan hasil selingkuhan politik mengorbankan rakyat. Maka tidak heran jika hasil kerja seperti ini," jelas Liando yang juga dosen politik Universitas Sam Ratulangi Manado.

Lanjut dikatakan Liando, memuluskankepentingan raih kekuasaan diparlemen menyebabkan partai sejak awal mengambil langkah gampang dengan menggaet pemilik modal dan penguasa jaringan politik.

"Orang yang bermodal besar ditarik jadi calon anggota dewan, tak peduli dengan kwalitas yang penting bisa bayar mahar kepartai selain itu juga partai menggaet keluarga penguasa, anak pejabat, istri pejabat dan kerabat pejabat, alhasil anggaran daerah dipolitisasi untuk raih suara," ucap Liando.

Sementara itu Harold Lumempow mengatakan yang harusnya dicermati apa yang dilakukan legislator sario saat ini adalah penggunaan keuangan yang telah dianggarkan.

"Bukan hanya pada kemungkinan terjadinya korupsi keuangan tapi juga pada pemanfaatan waktu kerja, yang terjadi saat ini adalah banyak anggota dewan justru sering melakukan korupsi waktu yang tak disadari waktu kerja anggota dewan tersebut telah dibayar tunai oleh warga sulut," tegas Lumempow.

Penegasan lain juga dilontarkan oleh Taufik Tumbelaka yang fokus pada konspirasi politik dan penggunaan anggaran yang dinilai tak berimbang dengan hasil positif terhadap masyarakat.

"Ekspetasi warga terhadap anggota legislator sario terlalu tinggi, jika dilihat dari pengeluaran daerah yang notabene uang rakyat bagi 45 anggota dewan sangat besar, namun anggaran tersebut terkesan mubasir," kata Tumbelaka.(Obe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment