Berita Terbaru

Tuesday, June 14, 2016

Penyamun Berdasi di Proyek Gedung Baru DPRD Sulut
by noberd losa - 0

Ilustrasi

MANADO,SM.COM – Ratusan miliar Proyek multi years pembangunan gedung baru DPRD Sulut di Kairagi yang berjalan terseok-seok sejak tahun 2013 dan tak kunjung selesai sampai dengan tahun anggaran 2016 ini bahkan cukup menguras uang rakyat lewat APBD Sulut dicurigai banyak penyamun berdasi yang memanfaatkan proyek tersebut.

Anggota DPRD Sulut Jems Tuuk mencurigai pekerjaan khusus pembangunan fisik yang total berbandrol Rp100 miliar tersebut terseok-seok karena pesanan dari sponsor yang memilik pengaruh kuat mampu merubah pekerjaan dari perencanaan awal.

“Perencanaan awal adalah langkah awal pekerjaan untuk dijadikan patokan untuk estimasi pemngeluaran pembiayaan, namun ternyata perubahan demi perubahan pekerjaan dilakukan akhirnya pembiayaan membengkak sampai Rp100 miliar, apakah penting dilakukan perubahan dari perencanaan atau ada pesan sponsor dibelakang supaya doi ini jadi lebih banyak agar penyamun-penyamun ini dapat doi lebih banyak dari situ,” Kata Tuuk Saat hearing dengan Komisi I dengan Sekretariat DPRD Sulut pada senin(14/6/2016) kemarin.

Anggota Komisi I lainnya Netty Agnes Pantouw pada akhir pecan lalu bahkan sempat mengeluarkan pernyataan yang berharap perubahan perencanaan awal yang menyebabkan pembengkakan anggaran dan membebani APBD semoga tidak melibatkan anggota dewan.

"Sehingga diharapkan tidak merugikan DPRD Sulut, namun dengan temuan yang didapati Inspektorat dan BPK menandakan telah terjadi kesalahan besar, saya berharap tidak ada oknum anggota DPRD Sulut yang tidak terlibat masuk kesana," kata Srikandi Politisi Demokrat Minahasa Utara ini.

Eks Ketua Komisi III DPRD Sulut Periode 2009-2014 Serpa Manembu pun akhirnya berkicau juga soal pekerjaan tersebut dengan mempertanyakan pekerjaan terlalu memakan waktu bahkan menantang pihak BPK lakukan audit Forensik.

"Program awalnya hanya 3 tahun, tapi heran ini sudah berlarut-larut seperti ini, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan,red) harus tuun lakukan Audit Forensik,berlarut-larut seperti ini sudah lari dari program awal, padahal pembangunan bukan proyek yang besar sehingga tidak membutuhkan penggunaan alat canggih," ungkap Manembu.

Ditambahkannya, diduga "pemain" pekerjaan gedung baru ini sejak awal orang yang sama dan terus berlanjut sampai sekarang.

"Jangan-jangan pemainnya orang yang sama, hanya berganti-ganti baju aja, orang yang sama namun PT (Perusahaan Terbatas,Red) yang dipakai berganti-ganti," pungkas Manembu.

Dugaan ini ternyata hampir benar adanya, pasalnya hasil adudit Inspektorat Sulut dan BPK  terdapat temuan telah terjadi perubahan pekerjaan dan material dari rencana awal dan ini menjadi suatu temuan yang dinilai sebagai kesalahan yang pengerjaannya dilakukan oleh PT. RAJASA MITRA ABADI.

Kepala Inspektorat Sulut Praseno Hadi tegaskan perubahan pekerjaan tersebut tanpa dibarengi dengan data dan dokumen tekhnis yang valid.

Menurut Praseno, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sekertaris DPRD Sulut, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kepala Bagian umum DPRD Sulut dan Kontraktor serta tim teknis dari dinas Pekerjaan Umum terjadi silang pendapat soal perubahan pekerjaan tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Praseno, sejak dilakukan audit tahun 2015 lalu, pihaknya telah menyarankan KPA,PPTK,Kontraktor dan Tim Teknis menindaklanjuti dengan menyediakan data dan dokumen valid untuk pertanggung jawaban atas perubahan material tersebut.

"Namun sayangnya silang pendapat tersebut tak kunjumg dilakukan, begitu baca temuan BPK ternyata muncul,seharusnya sudah dirubah, padahal kita sudah ingatkan, begitu ada perubahaan pekerjaan dilapangan harus segera dibarengi dengan dokumen dan data," jelas Praseno.

Sekertaris DPRD Sulut Bartolomeus Manonutu tak menampik adanya temuan dari Inspektorat dan BPK, namun dirinya belum tahu pasti nominal kerugian yang terjadi karena harus menunggu informasi resmi dari BPK.

Untuk diketahui, Lelang Pemenang proyek pekerjaan pembangunan gedung baru DPRD Sulut di Kairagi tahun anggaran 2016 dimenangkan oleh PT. Cahaya Abadi Lesatari dengan nilai pekerjaan Rp26 miliar dengan waktu pekerjaan 6 bulan sampai dengan 10 desember akhir tahun 2016.(Obe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment