Berita Terbaru

Tuesday, May 17, 2016

Kelompok 16 Tua-Tua GMIM layangkan surat terbuka menolak Perubahan Tata Gereja
by donwu - 9

Kelompok 16 Tua-Tua GMIM.
MINAHASA, SMCOM—Pelaksanaan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) ke-78 tahun 2016, telah resmi dibuka dan langsung dilaksanakan di gedung Wale Ne Tou Tondano, Minahasa, Selasa (17/5/2016) pagi, dan akan berlangsung hingga Rabu (18/5/2016) besok. Hajatan tahunan ini akan membahas tentang perubahan Eklesiologi Tata Gereja GMIM, serta penetapan Kredo GMIM.
Namun sehari sebelum dibukanya SMSI ke-78 ini, pada Senin (16/5/2016) para tua-tua GMIM telah melayangkan surat terbuka kepada seluruh peserta anggota SMSI GMIM yang bersidang di Tondano. Tujuan utama surat terbuka ini adalah, para tua-tua GMIM menolak Perubahan Tata Gereja GMIM Bab I Pasal 1. Ini dia surat terbukanya:

KELOMPOK 16 TUA-TUA GMIM

Minahasa, 16 Mei 2016

Hal: HIMBAUAN/SERUAN UNTUK MENOLAK PEROBAHAN TATA GEREJA GMIM BAB I PASAL 1.

Kepada Yth
Seluruh Peserta anggota Sidang Sinode Istimewa GMIM
Di Tondano.-

Salam Dalam Tuhan Kita Yesus Kristus Kepala Gereja!

APA SEBAB KAMI MENGHIMBAU / MENYERUKAN KEPADA SAUDARA2 PARA PESERTA SMSI GMIM DI TONDANO UNTUK MENOLAK PEROBAHAN TATA GEREJA GMIM BAB I PASAL 1?

I. Bahwa dengan rasa SANGAT KECEWA dan PRIHATIN, kami 15 anggota dari Kelompok 16 Tua-Tua GMIM yang senantiasa mengamati perjalanan SEJARAH Gereja Masehi Injili di Minahasa sampai sekarang ini, menyatakan bahwa BPMS GMIM / MPS GMIM telah MENOLAK BERDIALOG dengan kami supaya mereka menarik konsep mereka untuk melakukan perobahan yang mendasar atas MAGNA CHARTA GMIM BAB I PASAL 1 TATA GEREJA GMIM. Itu berarti bahwa BPMS / MPS GMIM Periode 2014-2018 TIDAK MENGHARGAI LAGI AKAN SEJARAH KELAHIRAN GMIM DI TANAH MINAHASA DAN TIDAK LAGI MENGHARGAI VISI TEOLOGIS DAN EKLESIOLOGIS PARA PENDIRI (FOUNDING FATHERS) GEREJA MASEHI INJILI DI MINAHASA PADA TANGGAL 30 SEPTEMBER 1934dan sesudahnya, yang dibawah bimbingan ROH KUDUS telah bergumul, berdebat dan akhirnya telah memutuskan secara bulat MAGNA CHARTA TATA GEREJA GMIM BAB I, PASAL 1; YANG INGIN KAMI INGATKAN.

II. Bahwa MAGNA CHARTA GMIM yang terungkap dalam Tata Gereja GMIM Bab I Pasal 1 jelas mengungkapkan bahwa GMIM bukanlah Gereja Suku Bangsa Minahasa tetapi bahwa GMIM adalah TUBUH KRISTUS sendiri YANG BERADA DIATAS TANAH MINAHASA DAN OLEH SEBAB ITU GMIM ADALAH PERSEKUTUAN ORANG2 PERCAYA DIATAS TANAH MINAHASA YANG ADALAH JUGA SEBUAH GEREJA (PERSEKUTUAN) YANG ESA, AM, KUDUS, RASULI DAN UNIVERSAL. Itu berarti pula bahwa Persekutuan orang orang percaya dalam GMIM mengakui bahwa KRISTUS berada diseluruh dunia (Universal) dimana orang2 yang percaya (individu) dalam GMIM TURUT BERSEKUTU dengan orang orang percaya di seluruh Indonesia dan diseluruh dunia secara ESA, AM, KUDUS DAN RASULI. Inilah MAKNA, HAKEKAT DAN PANGGILAN VISI TEOLOGIS DAN EKLESIOLOGIS GMIM SEBAGAI PERSEKUTUAN ORANG2 PERCAYA TERHADAP YESUS KRISTUS DAN BUKAN SEBAGAI ’LEMBAGA’ GEREJA KESUKUAN. Ini jugalah VISI OIKUMENIS para pendiri GMIM di tahun 1934 pada waktu terjadi debat panjang tentang MAKNA, HAKEKAT dan PANGGILAN GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS DIMANA KITA SEKALIAN PERCAYA SEBAGAI ORANG BERIMAN DIATAS TANAH MINAHASA.

III. Bahwa konsep formulasi perobahan Tata Gereja GMIM yang diusulkan oleh BPMS / MPS GMIM Periode 2014-2018 seperti gambar dibawah ini, biarpun dengan disertasi ayat2 Alkitab dari Kejadian 12; 1 Petrus 2; Kisah Para Rasul 1; 1 Kor. 9 dan Lukas 4; adalah merupakan sebuah konsep yang sangat bertolak belakang (bertentangan), bahkan memanipulasi maupun mengingkari makna dan arti Ayat2 Alkitab tsb karena PEROBAHAN TSB. TIDAK MEMBERIKAN PENJELASAN YANG BERSIFAT TEOLOGIS DAN EKLESEIOLOGIS OIKUMENIS SEPERTI PENJELASAN DALAM TITIK DUA DIATAS TERHADAP TATA GEREJA GMIM BAB I, PASAL 1. DAN KARENA PENJELASAN YANG DIBERIKAN BPMS / MPS GMIM Periode 2014-2018 hanya didasarkan atas alasan organisatoris (duniawi), bahkan menjurus kepada kepentingan pribadi yang praktis dan pragmatis; MAKA KONSEP PEROBAHAN TATA GEREJA GMIM SEPERTI FORMULASI DIBAWAH INI HARUS DITOLAK.

IV. Bahwa atas kenyataan SEJARAH GMIM yang adalah sebuah GEREJA YANG ESA, AM, KUDUS, RASULI DAN UNIVERSAL, maka kami perlu ingatkan disini bahwa di abad ke 20 melalui para Guru Injil GMIM dalam kedudukan mereka sebagai individu yang setia kepada panggilan Yesus Kristus dan yang diutus oleh GMIM; mereka telah pergi menyebar keseluruh pelosok Indonesia di Tanah Karo Batak, Tanah Toraja, Tanah Poso Donggala, Tanah Gorontalo untuk mendirikan Gereja Gereja setempat yakni Gereja Karo Batak; GKST, Gereja Toraja Rantepao; Gereja Toraja Mamasa; Gereja Protestan Palu Donggala; Gereja Protestan Buol Toli2; Gereja Protestan Indonesia Gorontalo; GMIBM dan yang terakhir bersama Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Gereja Masehi Injil;i di Timor (GMIMT) mendirikan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) di Jakarta dan sekitarnya. Bertitik tolak dari MAGNA CHARTA GMIM dalam Tata Gereja GMIM Bab I, Pasal 1 tsb diatas maka GMIM ternyata dalam sejarahnya TIDAK PERNAH berpikir untuk mendirikan LEMBAGA ORGANISASI GMIM di daerah-daerah tersebut.

Sebagai contoh konkrit atas kesetiaan VISI DAN PANGGILAN OIKUMENIS GMIM berdasarkan Tata Gereja GMIM Bab I, Pasal 1 maka setelah Perang Dunia ke 2 GMIM mengutus Pdt. BA Supit pada tahun 1946 ke Jakarta dan ditempatkan sebagai Pendeta Gereja Imanuel untuk bersama sama dengan utusan dari GPM (Maluku) dan GMIT (Timor) di bawah koordinasi Moderamen Protestantsche Kerk in Indonesia (GPI) mendirikan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) pada tanggal 30 Oktober 1948 dengan susunan BP Sinode GPIB pertama Ds. De Klerk sebagai Ketua; Ds. BA Supit sebagai Wkl Ketua dan Ds. Snijders sebagai Sekretaris. Kemudian pada tahun 1950 Pdt. BA Supit menjabat sebagai Pj. Ketua Sinode GPIB menggantikan Ds. De Klerk yang harus kembali ke Negeri Belanda. Dibawah ini sebuah foto kesaksian nyata atas KEPELOPORAN GMIM DALAM GERAKAN OIKUMENIS DI INDONESIA.

Setelah pengutusan Pdt. BA Supit (GMIM) ke Jakarta pada tahun 1946 tsb, dengan mendirikan GPIB, maka Pdt. AZR Wenas sebagai Ketua Sinode GMIM mengambil prakarsa Oikumenisnya yang luas dan Alkitabiah untuk mengutus Pendeta2 terbaik GMIM lainnya yakni Pdt. Tengker ke GPIB Bandung, Pdt. Undap ke GPIB Makasar, Pdt. Polii ke GPIB Semarang, Pdt, Lumanauw ke GPIB Surabaya, Pdt. Tindas, Pdt. Mamesah dan Pdt. Porawouw ke GPIB Jakarta merangkap Pelayanan Rohani militer. Semuanya itu GMIM lakukan untuk mengembangkan dan memberdayakan GPIB yang baru lahir. Maka demikian juga Pdt. RM Luntungan diutus untuk menjabat sebagai Ketua GPI di Jakarta. Pdt. BA Supit kemudian ditugaskan sebagai Ketua Panitia Pembentukan Dewan Gereja di Indonesia bersama Pdt. WJ Rumambi di mana akhirnya Dewan Gereja2 di Indonesia terbentuk pada tanggal 5 Mei 1950 dengan Pdt. WJ Rumambi diangkat sebagai Sekretaris Umum Pertama DGI. Itulah Tugas Panggilan GMIM sebagai Gereja Mandiri DI Minahasa demi mengimplementasikan VISI DAN MISI OIKUMENISNYA YANG KOKOH serta falsafah Adat Minahasa yakni ’MAPALUS’ DAN ’SI TOU TIMOU TUMOU TOU’. ITULAH JATI DIRI DAN KARAKTERISTIK GMIM YANG UNIK YANG MEMPERDULIKAN GEREJA LAIN DAN BUKAN EGOIS DEMI GMIM SENDIRI.

Perobahan Tata Gereja GMIM Bab I Pasal 1 yang menyangkut hubungan Keesaan Oikumenis GMIM bersama GPM, GMIT dan GPIB dalam GPI menurut kami perlu dikonsultasikan dalam keluarga Gereja yang lebih besar yakni Greja Protestan di Indonesia (GPI) bersama GPM, GMIT dan GPIB berhubung GMIM adalah Gereja yang pernah memelopori Persekutuan Oikumenis tsb. Bila tidak, maka GMIM akan dinyatakan oleh Saudara2 Gereja dalam GPI dan Persekutuan Gereja Oikumenis di Indonesia (PGI) sebagai sebuah Gereja yang mengingkari / mengkhianati kepeloporan oikumenisnya sendiri. Itu berarti bahwa GMIM secara kiasan akan ’menjilat’ ludahnya sendiri.

Bahkan ditahun 1954 waktu terjadi ’perpecahan’ dalam GPIB Makasar dimana anggota GPIB asal Minahasa ingin mendirikan GMIM di Makasar, Sinode GMIM dibawah Pdt. AZR Wenas dengan tegas menolaknya karena bertentang dengan KARAKTER JATIDIRI GMIM. Demikian juga sesudah itu di Jakarta pada sekitar tahun 80han’Germindo’ di Tanjung Priok lahir, Sinode GMIM menolak gereja tsb menamakan diri GMIM karena bertentangan dengan Magna Charta GMIM.

V. Perlu kami ingatkan pula bahwa keterlibatan GMIM dalam Gerakan Oikumenis Sedunia yakni dalam World Council of Churches (WCC) dan Christian Church of Asia (CCA) melalui kesepakatan Dokumen Keesaan Baptism, Eucharist and Ministry (BEM) ; demikian pula kesepakatan Oikumenis Nasional melalui Dokumen Keesaan Gereja (DKG) PGI telah mengikat GMIM untuk SETIA KEPADA KESEPAKATAN2 OIKUMENIS GEREJA TERSEBUT,.

MAKA BERDASARKAN ATAS KE-LIMA URAIAN DIATAS TSB., HIMBAUAN DAN SERUAN KAMI KEPADA PARA PESERTA SMSI GMIM DI TONDANO, KIRANYA SAUDARA2 AKAN TETAP SETIA KEPADA MAGNA CHARTA WUJUD DAN PANGGILAN ILAHI GMIM SESUAI TATA GEREJA GMIM BAB I, PASAL 1 SAMBIL MENOLAK PEROBAHANNYA YANG TIDAK TEOLOGIS DAN TIDAK EKLESIOLOGIS OIKUMENIS ALKITABIAH.

APA SEBENARNYA PRIORITAS GMIM MASA SEKARANG?

Prioritas GMIM masa sekarang menurut kami BUKANLAH menjadikan GMIM sebuah Gereja yang disebut ’Global Church’ atau ’Gereja Nasional yang Mendunia’; maupun menciptakan sebuah ’Credo GMIM’ untuk GMIM sendiri.......karena Gereja segala abad sudah memiliki tiga buah Credo (Pengakuan Iman) utama yang dipakai diseluruh dunia oleh hampir seluruh Gereja termasuk GMIM yakni 1. Credo Nicea Konstantinopel; 2. Credo Para Rasul; dan 3. Credo Anasthasius.

PRIORITAS GMIM DIJAMAN ’POSTMODERN’ SEKARANG INI YANG HARUS DIGUMULI DALAM SATU SIDANG MAJELIS SINODE ISTIMEWA MENURUT KAMI ADALAH SECARA SINGKAT SBB !

1. MEMPERKOKOH ASPEK PENGGEMBALAAN (PASTORAL) PARA PELAYAN KHUSUS GMIM TERHADAP ANGGOTA2 JEMAAT, TERUTAMA MENGHADAPI BERBAGAI TANTANGAN MENTALITAS KONSUMERISME, MATERIALISME DAN PRAGMATISME...!!
2. DIAKONIA PENDIDIKAN DISEMUA ARAS GMIM DARI TAMAN KANAK2 SAMPAI KE JENJANG UNIVERSITAS; TERUTAMA PENDIDIKAN TEOLOGIA FORMAL DAN NON FORMAL YAKNI PWG YANG SEMUANYA KWALITASNYA SEDANG TERPURUK...... APA LAGI MASALAH KONFLIK DI UKIT GMIM YANG SUDAH MASUK DALAM TAHUN KE 10 YANG BELUM JUGA SELESAI.
3. DIAKONIA KESEHATAN YANG SEKARANG INI SEDANG DILANDA MENTALITAS PRAGMATISME MATERIALISME SEAKAN AKAN SUDAH MENINGGALKAN FALSAFAH KESEHATAN KRISTEN ’PENYEMBUHAN HOLISTIK’ DALAM KONTEKS ’GEREYA YANG MENYEMBUHKAN’ ATAU ’THE HEALING CHURCH’.
4. DIAKONIA EKONOMI GEREJA / JEMAAT YANG SEIRAMA DENGAN ’EKONOMI KERAKYATAN’ DIMANA HARUS ADA KESEIMBANGAN KEKUATAN EKONOMI / KEUANGAN ANTARA JEMAAT DAN SINODE UNTUK MENGHADAPI PENETRASI MODAL EKONOMI KEUANGAN YANG BESAR DARI LUAR TANAH MINAHASA YANG MELEMAHKAN EKONOMI RAKYAT/JEMAAT DI MINAHASA. YANG HARUS KOKOH DALAM EKONOMI GEREJA ADALAH JEMAAT DANBUKAN SINODE....KARENA JEMAATLAH YANG ADALAH AKAR DAN TULANG PUNGGUNG GEREJA (GMIM).

SEKIANLAH HIMBAUAN DAN SERUAN KAMI. TUHAN YESUS, KEPALA GEREJA (GMIM) KIRANYA MEMBERKATI SEGALA PERGUMULAN SAUDARA2 DALAM SMSI GMIM DI TONDANO. TERPUJILAH NAMA TUHAN KITA YESUS KRISTUS.(dsw)

Hormat kami,
Kelompok 16 Tua-Tua GMIM:
1. Dokter BA Supit
2. Pdt Em. JL Posumah
3. Pdt. Em. HW Tampemawa
4. Pdt. Em FS Kamagi
5. Pdt. Em. S Lumingkewas
6. Pdt. Em. E Kindangen
7. Pdt. Em. Alpon Liow
8. Pdt. Em. JRW Ruauw
9. Pdt. Em. M Sambuaga-Dumais
10. Drs. Ev. J Sambuaga
11. Pdt. Em. Jan Sumakul
12. Pdt. Em. JR Pandeirot
13. Pdt. Em. Ben Pangau
14. Bpk. Ev. J Kawengian
15. Drs. Lona Lengkong
16. Bpk. (Almarhum) AHJ Purukan
« PREV
NEXT »

9 comments

  1. AHJ purukan alm. masa bisa menyampaikan seruan,,,sedangkan untuk pembahasan baru diumumkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Musti baca dengan teliti: "...kami 15 anggota dari Kelompok 16 Tua-Tua GMIM..."

      Delete
    2. Kan so blg diatas, 15 dari 16... biongo...

      Delete
  2. Saya latar belakang GPM dan sekarang berjemaat di GPIB, pernah menjadi presbiter di GPIB....membaca surat terbuka tua-tua GMIM diatas, ikut merasa prihatin atas apa yang sedang berproses di GMIM saat ini...
    Dari sisi sejarah, GMIM adalah kakak tertua dari Gereja bagian Mandiri yang lainnya yang disebut Gereja Saudara yang berasal dari induknya Indiche Kerk/GPI.
    Selama berjemaat di GPIB banyak anggota jemaat yang mayoritas latar belakang GMIM dan tentu saja ada nuansa kawanua,yang mewarnai dinamika berjemaat dibeberapa jemaat GPIB. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa GPIB rasa GMIM. Bahkan anggota jemaat yang non Minahasa bisa terpengaruh dengan nuansa Minahasa, sehingga saya yang orang Ambon bisa ngomong Manado dengan basudara yang dari Manado.
    Ini suatu fenomena yang luar biasa yang harus disyukuri karena selain Gereja Saudara yang lain, GMIM telah ikut memberikan warna bagi perjalanan pelayanan dan kesaksian bagi GPIB selama ini.
    Nah, membaca surat terbuka 16 Tua-tua GMIM, sebagai orang luar saya tidak mencampuri dinamika apa yang sedang terjadi di GMIM, namun sebagai warga gereja yang belajar dari sejarah gereja di Indonesia khususnya dalam lingkup GPI dan PGI, maka menurut pendapat saya yang awam adalah :
    ......Gereja hadir di dunia bukan karena keinginan para rasul,pejabat gereja atau warga gereja tetapi atas kehendak Sang Kepala Gereja yakni Yesus Kristus. Melalui Para Rasul dan Para Penginjil, yang dimulai dari Yerusalem, dengan perjuangan dan pengorbanan dengan tuntunan kuasa Roh Kudus, Gereja boleh tersebar di Eropa, Asia, Afrika dan termasuk di Indonesia. Semua itu atas kehendak Sang Kepala Gereja melalui tubuh-Nya, gereja berkembang dan menyebar secara universal. Kehadiran Gereja di Indonesia termsuk GMIM,GPM,GMIT,GPIB dan Gereja saudara yang lain maupun secara Oikumene melalui PGI, adalah bagian dari rancangan Sang Kepala Gereja untuk gereja hadir dan menjadi berkat bagi masyarakat dimana gereja secara individu maupun institusi itu berada. Dalam perjalanan sejarah dimana gereja secara institusi hadir dengan menggunakan nama suku atau daerah sebenarnya merupakan sebuah ciri khas yang memberikan suatu rasa kebanggaan bagi suku atau daerah dimana institusi Gereja itu berada yang perlu disyukuri karena Tuhan Yesus Kepala Gereja mau memberkati umatNya melalui gereja setempat.
    ....Yang menjadi persoalan adalah ketika gereja mengabaikan panggilannya sesuai Tri Panggilan Gereja, ...BERSEKUTU, MELAYANI DAN BERSAKSI.... yang tentu saja bila dilaksanakan dengan murni dan kosekwen maka akan menghadirkan damai sejahtera Allah bagi dunia ini.
    Seringkali kepentingan para petinggi gereja lebih penting dari pada tri panggilan gereja. Seyogyanya para petinggi gereja itu dalam menjalankan tugas panggilan dan pengutusannya harus berpedoman pada tri panggilan gereja tersebut.
    Pertanyaan saya, apakah dengan adanya GMIM expansi ke wilayah-wilayah gereja saudara yang lain dapat memberikan dampak yang positif bagi jemaat dan masyarakat yang ditempat yang baru, dan tidak menimbulkan kegaduhan dalam berjemaat ?
    Dapat dibayangkan, ketika GMIM resmi hadir di wilayah GPIB yang mayoritas orang Minahasa, dan pasti ada yang pro dan ada yang kontra, karena konsentrasi jemaat terbelah mau ikut GMIM atau GPIB...begitu pula GPM dan GMIT, melakukan hal yang sama.... apakah ada damai sejahtera disana ?
    Sekarang kita berada diera modern yang super canggih.... sebagai latar belakang GPM kalau rindu dengan GPM bisa buka Website GPM, atau menghubungi by Media sosial, sambil membagi informasi dengan basudara di GPM tanpa harus mendirikan GPM ditempat saya....
    Jadi, maksud dan tujuan yang baik dan jelas, ada manfaatnya atau tidak bagi pelayanan gereja sebagai tubuh Kristus, bukan hanya bermanfaat bagi para petinggi gereja secara sesaat saja namun harus bermanfaat dalam menghadirkan damai sejahtera Allah bagi dunia.

    ReplyDelete
  3. Baca bae2 depe surat dari atas supaya paham. Ada bilang 15 org dari tim 16

    ReplyDelete
  4. Makanya baca bae2 diatas kan ditulis 15 dari 16 tua2.....haduhhhhhhh

    ReplyDelete
  5. Boleh tahu, apa sebenarnya isi bab 1 pasal 1, dan apa isi perobahannya?
    Ma kasih dan salam

    ReplyDelete
  6. Boleh tahu, apa sebenarnya isi dari bab 1 pasal 1, dan apa isi perobahannya?
    Ma kasih dan Salam

    ReplyDelete
  7. Gereja jgn terlalu banyak di Revisi lama2 Alkitab akan ikut terrevisi/Amandemen.

    ReplyDelete