Berita Terbaru

Friday, February 12, 2016

Menyibak penyebaran HIV/AIDS di Manado
by Unknown - 0

Oleh: Syaiful W. Harahap *
“Manado 'Koleksi' 813 Pengidap HIV/AIDS, 300 Orang di Antaranya Meninggal Dunia” Ini judul berita di sebuah media cetak yang terbit di Manado edisi Kamis (11/2/2016)
Bagi banyak orang, termasuk wartawan yang menulis berita ini, judul berita ini tidak bermakna. Buktinya, penjelasan atau ulasan dalam berita sama sekali tidak menukik ke persoalan utama di judul berita yaitu kematian 300 pengidap HIV/AIDS. Kematian 300 pengidap HIV/AIDS Itu jadi penting semata-mata bukan karena jumlahnya (dalam jurnalistik sebagai salah satu unsur layak berita), tapi kematian 300 pengidap HIV/AIDS erat kaitannya dengan penyebaran HIV/AIDS di Manado khususnya dan di Sulut pada umumnya.
Secara statistik kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi para rentang waktu antara 5-15 tahun setelah tertular. Itu artinya pada rentang waktu antara tertular HIV dan meninggal (pada masa AIDS) pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu bisa jadi sudah menularkan HIV kepada orang lain, khususnya melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Laki-laki dewasa akan menularkan HIV ke istri atau perempuan lain yang menjadi pasangan seksnya, bisa juga ke pekerja seks komersial (PSK) langsung dan PSK tidak langsung. Jika laki-laki yang meninggal terkait AIDS mempunyai istri lebih dari satu, maka jumlah perempuan yang berisiko tertular HIV pun kian banyak pula. Laki-laki dewasa yang tidak beristri bisa menularkan HIV ke pacar atau pasangan seksnya serta PSK langsung dan PSK tidak langsung.
Yang jadi persoalan besar adalah kalau di antara 300 pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu ada PSK langsung dan PSK tidak langsung. Seorang PSK sejak tertular sampai mati melayani 3600-10.800 laki-laki (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 5 tahun atau 15 tahun). Laki-laki itu semua berisiko tertular HIV dari PSK pengidap HIV/AIDS jika mereka tidak memakai kondom waktu sanggama.
Nah, kalau saja data Dinkes Kota Manado bagus tentulah bisa dirinci jenis kelamin, umur dan pekerjaan 300 pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu. Paling tidak pasangan mereka berisiko tertular HIV. Ini terjadi jika 300 pengidap HIV/AIDS yang mati itu tidak menjalani tes HIV sesuai dengan standar baku tes HIV. Kalau tes HIV pada 300 pengidap HIV/AIDS yang mati itu sesuai standar, maka akan bisa diketahui pasangan mereka melalui konseling. Yang perlu diingat tidak boleh melakukan tracing (melacak) pasangan mereka karena hal itu merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM). 

***
Kita tidak mengetahui apa langkah Dinkes Manado menghadapi dampak dari kematian 300 pengidap HIV/AIDS tsb. Kalau tidak ada langkah-langkah konkret itu artinya pasangan seks dari 300 pengidap HIV/AIDS yang mati tsb. menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.
Sebagai fakta medis penanggulangan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal dan terukur. Tapi, Kadis Kesehatan Manado dr Robby Mottoh, memberikan ‘resep’ pencegahan yaitu “ .... mengimbau kepada masyarakat agar berpola hidup sehat, setia pada pasangan, rajin beribadah. Hindari pemakaian narkoba jarum suntik begitu juga jarum Tato harus steril.” Pernyataan Mottoh ini mitos (anggapan yang salah) dan merupakan kontra produktif terhadap penanggulangan HIV/AIDS yang sudah berjalan puluhan tahun.
Pertama, tidak ada kaitan langsung antara ‘berpola hidup sehat’ dengan penularan HIV karena penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi karena kondisi hubungan seskual (salah satu atau kedua-duanya mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom), bukan karena sifat hubungan seksual (zina, homoseksual, pola hidup tidak sehat, dll). Kedua, kalau salah satu pasangan mengidap HIV/AIDS, misalnya tertular melalui transfusi darah, maka kesetiaan pasangan itu akan menimbulkan bencana karena kesetiaan mereka tidak akan bisa mencegah penularan HIV.
Ketiga, mengaitkan ‘rajin beribadah’ dengan penularan HIV mendorong masyarakat memberikan stigma (cap buruk) dan diskriminasi terhadap pengidahp HIV/AIDS karena dikesankn tidak rajin beribadah. Lalu, bagaiman dengan ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suami: Apaka itu terjadi karena mereka tidak rajin beribadah? Keempat, risiko tertular HIV melalui jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) jika jarum suntik dipakai secara bersama-sama dengan bergantian. Kalau dipakai sendiri sampai kiamat pun tidak ada risiko penularan HIV melalui jarum suntik narkoba.
Persoalan besar di Manado adalah: Apakah di Manado ada pelacuran? Tentu saja jajaran Pemkot Manado akan menepuk dada sambil berkata lantang: Tidak ada! Secara de jure hal itu benar karena di era reformasi tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang ditangani oleh pemerintah, dalam hal ini Kemensos dan Dinsos. Tapi, secara de facto di Manado ada praktek pelacuran yang melibatkan PSK lansung dan PSK tidak langsung.
Maka, penanggulangan adalah melalukan intervensi agar laki-laki yang ngeseks dengan PSK selalu memakai kondom. Nah, di sini muncul persoalan berat karena praktek PSK tidak dilokalisir sehingga tidak bisa dijangkau. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi di Kota Manado terutama pada laki-laki dewasa yang sering ngeseks dengan PSK langsung dan PSK tidak langsung. Maka, tinggal menunggu waktu saja untuk ‘panen AIDS’.(*Syaiful W. Harahap, koresponden khusus kesehatan SKH Swara Kita di Jakarta)

Selengkapnya baca juga di SKH Swara Kita dan e-Paper www.swarakita-manado.com edisi Jumat 12 Fabruari 2016.



« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment