Berita Terbaru

Thursday, January 21, 2016

Penipuan cengkih, Polda kembali periksa mantan legislator Sangihe
by donwu - 0

Ilustrasi.
MANADO, SMCOM—Polda Sulut melalui Subdit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Dit Reskrimum, rupanya terus melakukan pengembangan kasus dugaan penipuan pembelian cengkih di Sangihe berbanderol miliaran rupiah. Buktinya, Rabu (20/1/2016), penyidik Jatanras kembali menggulirkan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Menariknya lagi, kasus yang tengah memasuki tahap penyidikan ini, turut memeriksa mantan Anggota Dekab Sangihe, Siong Tungare alias Ko Siong.
Informasi yang dirangkum di Mapolda Sulut menyebutkan, pemeriksaan terhadap saksi masih berlangsung guna mengetahui lebih dalam, siapa saja oknum yang harus bertanggung jawab dalam kasus tersebut. Nah, Ko Siong sendiri dikabarkan telah dimintai keterangan sebanyak dua kali oleh penyidik. “Sudah dua kali dia (Ko Siong, red) diperiksa. Kasus ini sudah naik sidik. Pemeriksaan tadi kita konfrontir juga antara saksi dengan Ko Siong. Tunggu saja karena masih kita dalami, untuk selanjutnya menemukan siapa tersangkanya,” kata sumber penyidik. Dari pantauan wartawan, Ko Siong didampingi seorang kerabatnya, terlihat berada sejak siang hingga sore di ruang penyidik Jatanras. Pemeriksaan terhadap Ko Siong berlangsung bersama sejumlah saksi lainnya.
Diberitakan sebelumnya, Selasa (19/1/2016) lalu, penyidik Jatanras Polda Sulut muali mengambil keterangan terhadap Siong karena diduga menjadi otak dalam kasus penipuan pembelian cengkih di Sangihe. Kasus ini berawal ketika warga Tamako, Kabupaten Sangihe mendesak agar Polda Sulut segera melayangkan panggilan dan melakukan pemeriksaan kepada Siong, pasca dilaporkan ke Polda pada Oktober 2015 lalu. Pasalnya, Siong diduga menjadi otak kasus penipuan pembelian cengkih. “Hingga kini belum ada kejelasan penanganan kasus ini. Beberapa waktu lalu polisi sempat periksa gudang Ko Siong. Sayangnya, hanya gudang yang diperiksa, Ko Siongnya tidak kunjung diperiksa,” sesal Opo, salah satu dari ratusan menjadi korban.
Diceritakan Opo, kronologis kejadiannya terjadi awal 2015. Saat itu, beredar kabar bahwa Ko Siong akan membeli cengkeh Rp150 ribu per kilogram. Warga pun berbondong-bondong menjual cengkih kepada Siong melalui suruhannya bernama Ina. “Ina yang mengambil cengkih dari warga dan dibawa ke gudang Ko Siong,” kata Opo. Dalam prosesnya, suruhan Siong itu kemudian mengambil cengkih warga dalam 5 tahap. Namun dalam pembayaran hanya tahap 1, 2 dan 3 yang dibayar sedangkan tahap 3 dan 4 yang paling banyak jumlah cengkehnya justru tidak dibayar. “Ina sudah kita lapor ke Polres dan dia mengaku sudah memakai semua uangnya. Tapi kami anggap tidak masuk akal, karena ada lebih dari 100 ton, tahap 4 dan 5 yang belum dibayar. Kalau dikalikan 100 ribu ada sekitar 100 miliar. Kami beranggapan Ina sengaja disuruh mengaku begitu. Kami menilai Ina hanya dijadikan kambing hitam saja,” jelas Opo.(oby)

Selengkapnya bisa dibaca di SKH Swara Kita dan e-Paper www.swarakita-manado.com
Edisi Kamis, 20 Januari 2016.

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment