Berita Terbaru

Thursday, January 7, 2016

Menanti Kejujuran, Harapkan Kepastian
by donwu - 0

Oleh:
Donny Wungow.
TAHUN 2015 sudah berlalu. Kini dunia diperhadapkan denan tahun yang baru, tahun 2016. Banyak hal yang sudah dilewati dan dijalani sepanjang tahun 2105. Dalam penanggalan Tiongkok, tahun 2016 merupakan Shio Monyet Api. Monyet digambarkan sebagai hewan yang lincah, sementara api digambarkan dengan kerja keras dan penuh energi. Alhasil, tahun 2016 bisa digambarkan sebagai tahun kerja keras yang tentunya harus dilewati dengan energi yang kuat yang diimbangi dengan kerja keras.
Bagaimana kondisi Kota Manado sepanjang 2016 kedepan, penulis coba memprediksi kendati tak setepat penerawangan para ahli atau bahkan hitung-hitungan para pakar. Namun satu hal yang perlu penulis tekanan adalah bahwa masyarakat Manado menanti kejujuran dan harapkan kepastian. Ya, masih seputar pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Manado yang tertunda—seharusnya digelar 9 Desember 2015—, dimana kejujuran para pemangku kebijakan yang mengendalikan proses pelaksanaan pilkada ini sangat dinantikan publik. Kalau toh tidak jujur, mau dibawa kemana proses demokrasi di ibukota Provinsi Sulut ini.
Kemudian soal kepastian, sejalan dengan penantian kejujuran di atas, maka kepastian pelaksanaan Pilkada Manado kapan diselenggarakan, itu yang dinantikan publik. Suatu hal yan merusak citra demokrasi yang mulai berjalan baik di Repubik ini ketika demokrasi itu dirusak sendiri oleh orang-orang yang mengaku demokratis. Di sini revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang notabene diusung PDIP diuji. Apakah benar-benar revolusi mental ini dijalankan atau hanya sekedar pencanangan semata.
Tentu saja, seiring tidak adanya kepastian pelaksanaan Pilkada Manado ini tentunya berimbas pada tatanan pemerintahan, karena masyarakat Manado butuh pemimpin hasil pemilihan, pemimpin yang terpilih dari hasil pesta demokrasi, bukan sekedar pemimpin yang ditunjuk atau dipilih bagaikan bermain tak tik tol. Karena itu, kekuatan pemimpin memimpin Manado ini akan menjadi lebih kuat kalau tercipta dari hasil pemilihan. Tapi sudahlah, mari kita tunggu saja kejujuran.
Bergeser ke gedung Parlemen, kejujuran para wakil rakyat kita juga di tahun 2016 ini diuji. Para politikus dibutuhkan keteguhan hati dalam memperjuangkan aspirasi rakyat sebagaimana janji-janji manis yang pernah mereka lontarkan saat kampanye Pemilu Legislatif tahun 2014 lalu. Selang kurang-lebih 1,6 tahun menjadi penyambung lidah rakyat, para politikus di gedung Parlemen Tikala seolah belum menunjukkan cara mereka sebenarnya sebagai penyambung lidah rakyat. Apakah karena baru setahun lebih duduk di kursi empuk? Entahlah.
Kita bergeser ke program kerja sepanjang 2016 yang bisa dibilang sebagai tahun transisi pemeritahan. Di penghujung tahun 2015, Walikota Manado (saat itu) GS Vicky Lumentut (GSVL) masih sempat menyusun APBD Manado 2016, program-program pro rakyat yang dijalankannya selama ini semisal pengobatan gratis melalui program Universal Coverage (UC), santunan dana duka, hingga insentif untuk rohaniwan. Namun ketika GSVL meletakkan jabatannya 8 Deseber 2015 lalu, maka tampuk pimpinan Manado diserahkan kepada Royke Roring selaku Penjabat Walikota hasil penunjukkan dari Penjabat Gubernur Sulut Soni Sumarsono. Gaya kepemimpinan pun berubah, dan belum dipastikan juga kalau program pro rakyat tersebut bisa berjalan. 
Yang pasti di 2016 berjalan ini, menanti kejujuran dan mengharapkan kepastian, hanya itu yang sanggup kita lakukan, semoga. Syaloom, Damai di Hati.(**)

Bisa juga dibaca di SKH Swara Kita dan diakeses di e-Paper www.swarakita-manado.com
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment