Berita Terbaru

Wednesday, January 6, 2016

Angie Sondakh Buka Hubungannya dengan Nazaruddin
by donwu - 0

TERPIDANA kasus korupsi Angelina Sondakh menjadi saksi Nazaruddin dalam kasus dugaan suap di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (6/1/2016), mengenakan hijab warna pink dengan kemeja putih lengah panjang. (foto: aguspriatna/inilah.com)
JAKARTA—Angelina Sondakh hadir di persidangan perkara suap dan pencucian uang menyeret Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (6/1/2016). Di persidangan itu, Angie—sapaannya—membuka bagaimana hubungannya dengan Nazaruddin. Duduk di ujung sebelah kiri, Angie memberikan kesaksian terkait dengan pekerjaannya selama menjadi anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di bawah kepemimpinan Nazaruddin. "Saya selalu ikuti arahan Nazarrudin," katanya.
Angie mengaku selalu mengikut perintah Nazaruddin karena diberikan beberapa janji. Ia dibebaskan dari iuran Partai seperti iuran Silaturahmi Nasional dan pembangunan gedung Fraksi Partai Demokrat. "Saya akan dibebaskan dari iuran asalkan terus bekerja," katanya. Biaya iuran akan dipotong langsung dari hasil kerja Angie. Almarhum suami Angie, Adjie Massaid, pun dijanjikan menjadi Komisi V DPR oleh Nazaruddin. Selama bekerja di Banggar, Angie mengatakan hanya mendengar komando dari Nazaruddin. "Apa yang diperintahkan terdakwa melalui Mindo Rosalina selalu saya usahakan secara maksimal agar terlaksana," katanya.
Dalam kesaksiannya, Angie mengaku dikenalkan dengan Mindo Rosalina Manulang yang diakui Nazaruddin sebagai kawannya. Angie kemudian menerima daftar perusahaan penerima APBN dari Mindo. Angie mengaku baru mengetahui bahwa Mindo adalah anak buah Nazaruddin setelah ia tersandung kasus Wisma Atlet. Angie mengibaratkan hubungannya dengan Nazaruddin seperti debu di atas keset yang diinjak-injak. "Saya sudah jadi debu di atas keset. Mau disuruh apa saja pasti saya lakukan," kata wanita yang mengenakan cincin perak di jari manis tangan kirinya tersebut.
Di satu sisi Angie bungkam saat disinggung soal pengajuan Peninjauan Kembali yang dikabulkan Mahkamah Agung (MA). Seusai bersaksi di Pengadilan Tipikor untuk terdakwa Nazaruddin, Angie langsung berjalan menuju ruangan saksi. Pengacara yang mendampingi Angie, Rudi Alfonso mengatakan, Angie masih tidak terima tetap dihukum berat meski dipotong dua tahun. "Yang tadi kalau dia tidak mau bicara ya, itulah. Itu sulit buat dia sehingga dia sangat terpukul," ujar Rudi di Pengadilan Tipikor.
Terlebih lagi, Angie harus meninggalkan anak-anaknya yang tak lagi memiliki ayah. Angie, kata Rudi, sulit menjelaskan kepada anak-anaknya mengenai hukuman terhadapnya. "Dia tidak bisa mengasuh anaknya. Mungkin dia bisa memberi argumen yang ini, tapi kan segitu lama gimana. Sementara anak ini juga makin besar," kata Rudi.
Dia mengatakan, meski hukuman diringankan dari 12 tahun menjadi 10 tahun, Angie masih merasa itu terlalu berat. Angie pun membandingkannya dengan vonis Nazaruddin. Dalam kasus korupsi wisma atlet, Nazar divonis tujuh tahun. "Tadi di persidangan kan jelas siapa pelaku utamanya, Nazar. Itu yang tidak adil," kata Rudi. Selain itu, menurut Rudi, kliennya tidak perlu membayar uang pengganti karena tidak terdapat kerugian negara. "Kenapa dikenai uang pengganti, nah itu yang bikin dia sedih. Mau bayar pakai apa?" kata Rudi.
Diketahui putusan MK menyatakan, Angie tetap dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi melanggar Pasal 12a jo pasa 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Putusan tersebut mengurangi vonis menjadi pidana penjara 10 tahun ditambah denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan. Putusan ini lebih ringan dibandingkan hukuman yang diberikan majelis kasasi MA yakni 12 tahun penjara dan hukuman denda Rp500 juta ditambah kewajiban membayar uang pengganti senilai Rp12,58 miliar dan 2,35 juta dolar AS atau sekitar Rp27,4 miliar.(tem/kom)

Bisa juga dibaca di SKH Swara Kita dan diakses di www.swarakita-manado.dom edisi Kamis 7 Januari 2016.

« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment