Berita Terbaru

Tuesday, December 8, 2015

Sekda Bolmut Resmi Ditahan atas Kasus MaMi 2,7 M
by Unknown - 0

Ilustrasi.
MANADO, SMOcom—Hari anti korupsi sedunia yang jatuh pada Rabu (9/12/2015) besok, menjadi momen bersejarah bagi jajaran aparat penegak hukum. Menariknya pada peringatan jelang akhir tahun tersebut, Polda Sulut melalui Subdit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus), memberikan kado dengan menetapkan Sekda Bolmut, RP alias Recky, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana Makan Minum (MaMi) di Sekretariat Daerah Pemkab Bolmut Tahun 2012. Tak hanya berstatus tersangka, pihak penyidik pun langsung mengeluarkan Surat Perintah Penahanan (SPP) untuk menjeblos Recky ke dalam Rutan Mapolda Sulut, setelah menjalani pemeriksaan intensif penyidik Tipikor, Selasa (8/12/2015).
Direktur Reserse Kriminal Khusus, Kombes Pol Hilman SIK MH, ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan bahwa pihaknya melakukan penahanan kepada tersangka Sekkab Bolmut, karena penyidik telah memiliki sejumlah bukti serta keterangan dari para saksi. Hilman pun menegaskan, setelah dilakukan penahanan, penyidik kembali melakukan pengembangan untuk mengungkap lebih jauh keterlibatan oknum lain dalam kasus tersebut.
“Tersangka sebelumnya oknum bendahara pengeluaran kita tahan, dan saat ini bertambah tersangkanya Sekda Bolmut. Tersangkanya setelah diperiksa, akan kita tahan. Penahanan kita laksanakan atas dasar tiga alat bukti yang dimiliki penyidik, serta penilaian pemeriksaan secara objektif dan subyektif. Artinya penahanan ini bagian dari upaya paksa dalam proses hukum. Setelah penahanan ini, kita akan kembangkan kasus ini. Berkasnya akan tetap jalan sambil menunggu hasil penyidikan lebih lanjut,” tegas Hilman, kepada wartawan, via telepon genggam, kemarin sore.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulut, AKBP Wilson Damanik mengungkapkan, bahwa kasus yang berbanderol Rp2,7 miliar ini, menjadi attensi Polda Sulut untuk dituntaskan. Dijelaskannya, dari pemeriksaan sekitar 20 saksi termasuk penyedia jasa 16 orang, ditemukan bukti kuat tersangka Sekkab Bolmut menjadi orang yang bertanggung jawab. Sedangkan tersangka oknum bendahara berinisial Iyam, dinilai sebagai otak dalam kasus ini, karena proses pencairan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dilakukan tanpa adanya kegiatan alias fiktif. Tak hanya itu, tersangka pun dianggap telah melanggar keputusan menteri nomor 13 tahun 2006, tentang pengelolaan keuangan daerah.
“Berkas tersangka Iyam berstatus P-19 oleh Jaksa, makanya ini menjadi acuan kita untuk menambah tersangka atas keterangan dan bukti pemeriksaan. Tersangka cairkan dana seakan ada kegiatan, padahal fikif kegiatannya. Di Bolmut itu ada sekitar 11 pos kegiatan. Seharusnya Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) tahu jelas anggaran dan kegiatannya ada atau tidak. Kita akan kembangkan lagi kasusnya, karena kasus korupsi kan berjemaah,” kata Damanik, didampingi Kasubdit Tipikor AKBP Gani Fernando Siahaan SIK MH, di ruang PID Humas.
Lebih lanjut dijelaskan Damanik, setelah dilakukan pemeriksaan penyidik, tersangka Sekkab Bolmut digiring ke Rumah Sakit Bhayangkara, Karombasan, untuk diperiksa kesehatan. Pasalnya, SPP telah diterbitkan dan tersangka segera dijeblos ke sel tahanan. Sayangnya, setelah diperiksa tim dokter sebelum ditahan, tersangka mengalami shok hingga tekanan darah naik drastis.
“Prosedurnya sebelum kita tahan, tersangkanya kita periksa kesehatan dulu. Namun ketika dilakukan pemeriksaan dokter, kesehatannya terganggu. Padahal saat diperiksa penyidik, kondisi tersangka baik. Tapi tersangka tetap ditahan. Sesuai rekom dokter Polri, diberikan perawatan medis beberapa hari. Setelah sehat kita tahan pastinya,” tegasnya.
Sebelumnya, Selasa (3/11) lalu, tersangka IY alias Iyam, yang merupakan bendahara pengeluaran di Setdakab Bolmut ditahan penyidik Tipikor. Penahanan tersangka tersebut sebenarnya akan dilakukan pada Oktober 2015. Hanya saja, ketika rencana tersebut akan dilaksanakan, sang bendahara mengalami gangguan kesehatan dan harus menjalani perawatan medis sejak tanggal 22-27 Oktober. Setelah melihat kondisi membaik, pihaknya memanggil tersangka dan langsung dilakukan penahanan. 
Kasus ini terungkap melalui Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), di Pemkab Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) tahun 2011-2012. Penyidik Tipikor Polda Sulut langsung melakukan penyelidikan, guna mengungkap kasus yang berbanderol miliaran rupiah ini. Sejumlah orang dekat mantan Bupati Bolmut, Hamdan Datunsolang diantaranya, supir Bupati, Sali Budi Pontoh, tim medis, Muhamad Valis Alwi dan Sespri, Erny Paputungan, turut dimintai keterangan penyidik Tipikor sebagai saksi.
Pengusutan terkait kasus ini sudah dilakukan sebelumnya pada tahun 2013 lalu tepatnya bulan Oktober. Salah satu item yang diungkap adalah dugaan penyimpangan anggaran Makan Minum (MaMi) 2012 silam, berbanderol sekitar Rp9 miliar. Nah dalam proses penyelidikan yang panjang, penyidik Tipikor telah melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan mendatangi Pemkab Bolmut beberapa waktu lalu.Tak hanya itu saja, penyidik turut melakukan penyitaan sejumlah dokumen terkait dugaan korupsi dana APBD 2012-2013 di antaranya, dokumen MaMi di Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Bolmut tahun 2012, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) tahun 2013, sudah disita sebagai barang bukti. Bahkan penyidik pun turut menyita beberapa bukti yang disimpan di salah satu rumah pejabat. Bahkan Sekda Bolmut, Recky Posumah, juga tak luput dari pemeriksaan di ruang unit 1 Tipikor Polda Sulut, beberapa kali.(obi/skh-swarakita)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment