Berita Terbaru

Thursday, September 3, 2015

Demo Unsrat; Aspirasi mahasiswa akan dibawa ke MenRistek-Dikti
by donwu - 0

Aksi demontrasi puluhan mahasiswa meminta Rektorat 
menurunkan biaya kuliah, yang digelar di Gedung 
Rektorat Unsrat, Kamis (3/9/2015) siang.(foto: farry/sk)
MANADO, SwaraManado.com- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam KNPI, HMI, GMKI, GAMKI dan GMII, melakukan aksi unjuk rasa Kampus Unsrat, Kleak, Kamis (3/9/2015) siang. Dalam aksinya mahasiswa menuntut pihak Rektorat menurunkan biaya kuliah. Menurut pendemo, biaya kuliah seharusnya tidak memberatkan mahasiswa maupun orangtua dan wali mahasiswa. Pasalnya kalau sudah memberatkan, mahasiswa akan kesulitan lagi untuk menuntut ilmu. Bahkan dalam aksi itu terpampang spanduk yang bertuliskan “Turunkan Biaya Kuliah Unsrat, supaya Anak Buruh, Petani, Nelayan, Sopir dan Tukang Ojek bisa Belajar dengan Tenang”.
Para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa itu diterima Prof Dr Ir Sangkertadi DEA, selaku Wakil Rektor bidang Bidang Perencanaan, Penganggaran dan Kerjasama (PPK). Dia mengatakan bahwa aksi yang dilakukan puluhan mahasiswa itu lebih kepada aspek  penurunan uang kuliah tunggal, dan memberikan akses yang lebih banyak kepada mahasiswa yang berpengasilan rendah. Sangkertadi pun menegaskan bahwa aspirasi ini akan diterukan ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KemenRistek-Dikti) di Jakarta.
“Aspirasi ini tentu menjadi aspirasi yang akan kita bawa ke Kementerian, karena dalam penetuan apa ini jumlah mahasiswa yang menerima beasiswa, yang anak-anaknya tidak mampu itukan ada bidik misinya, jumlahnya terbatas yang diberikan Kementerian. Sehingga dengan ini saya katakan, Pak Menteri tolong agar bidik misi di Unsrat ditambah. Pasalnya di Sulut ini banyak juga mahasisswa tidak mampu. Kami memohon supaya diberikan aksi lebih banyak dari pada petani, nelayan, dan yang tidak mampu. Jadi dari situ prinsipnya,” terang Sangkertadi, seraya mengajak mahasiswa untuk berjuang bersama.
Terkait uang kuliah, lanjut dia, sebenarnya ada hitungan-hintungan yang diberikan KemenRistek-Dikti, sesuai kategori. “Jadi ada yang nilainya dibawah Rp500 ribu per semester, tapi ada juga Rp1 juta per semester. Cuma porsi itu yang diberikan oleh Kementerian. Tidak banyak jumlahnya. Bahkan yang beasiswa pun ada, cuma tidak banyak. Nah kita akan minta kepada Kementerian supaya ditambah. Tapi perlu dimaklumi bahwa didalam pembangunan pendidikan ini perlu juga biaya dari  masyarakat,” ungkap Sangkertadi.
Dia juga menjelaskan bahwa soal mahal atau murah biaya kuliah, itu relatif. “Yang menghitung itu semua dari Kementerian, dan sudah ada angkanya. Contohnya, Kementerian menghitung untuk Fakultas Kedokteran 1 semester normalnya Rp26 juta per semester. Tentunya itu mahal sekali. Nah kita lakukan dibawah itu. Kita lakukan itu tidak melapaui biaya yang diterapkan oleh Kementerian sebagai standar BKT kita tidak melebihi dari itu, karena Kementerian sudah menghitung. Jadi UKT itu sekali bayar tidak bayar lain-lain, apa lagi bayar pembangunan. Tidak bayar wisuda, tidak bayar lab, tidak bayar pratikum, tidak bayar SKS tidak bayar lain-lain. Hanya itu, dan itu uang tungal,” terang Sangkertadi.
Jadi lanjut dia, UKT itu lebih mudah untuk merencanakan, dan tidak perlu mengeluarkan uang lagi. “Sekarang relatif dikatakan orang miskin tidak bisa sekolah, ada beasiswa dari Kementerian, hanya jumlahnya kita tidak bisa melebihi dari  jatanya. Soal kuoatanya sementara proses dan masih dalam pengusulan. Begitu juga bidik misi, kalau tahun lalu tidak sampai 1000, tahun ini masih sementara proses,” tutup Sangkertadi.(pra/dsw)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment