Berita Terbaru

Thursday, September 17, 2015

"Berantem" dengan Wawali, Sekkot Bitung ditampar orang
by donwu - 0

Sekkot Bitung Edison Humiang dan Wawali Max Lomban.
Tensi jelang Pilwako memanas, Lomban batalkan roling pejabat

BITUNG, SwaraManado.com- Tensi politik jelang Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwako) Bitung kian memanas. Imbasnya di Pemkot Bitung. Adalah agenda roling jejabat melalui pelantikan pejabat esalon III dan IV yang sedianya dilaksanakan Kamis (17/9/2015) di Balai Pertemuan Umum (BPU) Bitung, dibatalkan Wakil Walikota Bitung Max J Lomban.
Pasalnya menurut dia, dalam aturan, 6 bulan sebelum Pilkada, tidak bisa ada pergantian pejabat. “Saya baru saja berkonsultasi dengan Gubernur Sulut, dan beliau menekankan hal ini. Olehnya saya minta pelantikan ini dibatalkan,” tegas Lomban di hadapan ratusan PNS dan pejabat yang sudah siap untuk dilantik.
Dikatakan Lomban, berdasarkan petunjuk Gubernur Sulut maka roling pejabat tidak dilakukan agar roda pemerintahan tidak terkontaminasi dengan intrik politik. “Jangankan di Bitung yang ada saya sebagai incumbent, Gubernur dan Wakil Gubernur juga yang tidak mencalonkan diri di Pilkada, waktu akan melakukan rotasi pejabat justru ditegur dengan keras oleh Mendagri,” tambahnya.
Lomban pun menuding acara pelantikan pejabat ini merupakan ulah dari Sekkot Bitung Edison Humiang dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Pendidikan dan Pelatihan (BKDPP) Bitung Jossy Kawengian. “Jadi teman-teman yang seharusnya dilantik hari ini (hari ini, red) saya bermohon untuk sabar dulu karena pelantikan tetap akan dilakukan, namun setelah ada pemimpin yang baru nantinya. Semua ini hanya ulah Sekkot dan Kaban BKDPP saja. Kalian (para PNS, red) saya maklumi hanya mengikuti perintah saja. Untuk teman-teman dari media, saya minta ini dipublikasikan saja beritanya biar terang benderang. Saya tidak ingin ada yang disembunyikan,” tukas Lomban.
Tak berapa lama kemudian, Humiang dan Kawengian yang datang menyusul di BPU langsung meladeni argumen Wawali Lomban. Kawengian dalam penjelasannya sembari naik ke mimbar mengatakan, sebelum adanya pelantikan ini dirinya mengikuti rapat konsultasi dengan KPU Provinsi dan Bawaslu Provinsi. Dalam rapat koordinasi tersebut menurut Kawengian, dirinya berkonsultasi dan menanyakan posisi Pemkot Bitung apakah Walikota saat ini masuk dalam kategori petahana atau incumbent sebagaimana yang dimaksud Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. “Jawaban dari Bawaslu dengan jelas mengatakan bahwa Walikota Bitung saat ini (Hanny Sondakh, red) tidak masuk dalam kategori petahana. Olehnya kami merasa bahwa saat ini pak Walikota tidak akan terkena aturan ini,” terang Kawengian.
Sekkot Humiang juga langsung memegang mikrofon kemudian menyambung pernyataan Kawengian. Dalam pejelasannya, Humiang mengatakan bahwa alasan Wawali Lomban terkait petunjuk Gubernur tersebut tidak beralasan, mengingat yang dirotasi saat ini hanyalah pejabat di jajaran Eselon III dan IV serta pengisian jabatan yang lowong. “Mohon izin pak wakil, dalam pelantikan ini tidak ada yang non job, ini hanya untuk jabatan Eselon III dan IV,” tandas Humiang.
Dia kemudian menambahkan bahwa sebagai Ketua Baperjakat, dirinya mendapatkan mandat dari Walikota Bitung untuk melakukan pelantikan. Olehnya Wawali Lomban tidak seharusnya membatalkan pelantikan ini. “Saya sebagai Ketua Baperjakat mendapatkan mandat dari Walikota untuk melakukan pelantikan. Minta maaf, Pak Wakil bukan Walikota,” tegas Humiang.
Pernyataan Humkiang ini kemudian ditanggapi dengan keras oleh Lomban yang menjelaskan bahwa sesuai dengan aturan, jika Walikota Bitung yang saat ini sementara izin berobat berangkat maka tugas dan tanggung jawab dilimpahkan pada dirinya selaku Wawali. “Sesuai dengan aturan, jika Walikota berhalangan dan meminta izin maka tugasnya digantikan oleh Wakil Walikota. Perlu saya tegaskan bahwa saat ini saya tidak mengambil cuti dari tugas Wakil Walikota. Itu yang saya ingin tegaskan, dan saya berharap jika ada yang melakukan pelantikan akan saya laporkan langsung ke polisi,” sembur Lomban.
Debat dalam tensi tinggi tersebut akhirnya berakhir setelah Lomban dan Humiang kemudian terlibat adu mulut tanpa menggunakan mikrofon. Menariknya lagi, saat Humiang hendak menuju ruangannya di lantai 3 kantor Walikota, dirinya mendadak dikejar salah seorang warga berinisial RA, warga Madidir, yang diduga adalah pendukung Lomban serta sempat menampar orang nomor dua di Kota Cakalang ini. Namun kericuhan meredah setelah Satpol PP datang mengamankan lokasi. Sekkot sendiri lari masuk ruangan dan mengunci diri di ruangan Kepala Bagian Umum Setdakot Bitung.(edi)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment