Berita Terbaru

Tuesday, June 2, 2015

Kasus TPAPD Bolmong, identitas penyidik diduga peras MMS-FLS diungkap
by donwu - 0

Ketua LITPK Bolmong Raya, Yakin Paputungan
menunjukkan identitas oknum polisi diduga terlibat
pemerasan pada dua tersangka kasus TPAPD Bolmong.
Lolak—Tersangka dugaan korupsi Tunjangan Perangkat Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) Bolmong, MMS alias Butet, resmi dilimpahkan penyidik kepolisian ke Kejari Kotamobagu, Senin (1/6) lalu. Hanya saja ada hal menarik diduga dibalik kasus tersebut. Dimana, Lembaga Iinvestigsi Tindak Pidana Korupsi (LITPK) Bolmong Raya, menduga ada keterlibatan oknum Polisi dalam pemerasan pada dua tersangka kasus TPAPD yakni MMS dan FLS sebesar Rp400 juta.
Untuk itu, Ketua LITPK Bolmong Raya, Yakin Paputungan, mendesak Kapolda Sulut Brigjen Pol Drs Wilmar Marpaung agar memproses hukum oknum anggota unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Bolmong yang diduga terlibat. “Anggota tim Tipikor unit IV yang diduga lakukan pemerasan kepada MMS dan FLS adalah inisial AL, GP, CT, CN, IP, PS, TA, IM. Dan mereka harus diproses hukum,” ungkap Paputungan dalam keterangan persnya, Selasa (2/6) kemarin.
Dalam keteranganya, Paputungan mengaku ikut menjemput sejumlah uang tersebut di rumah MMS. Karena menurut dia, bahwa proses pemerasan itu diawali dengan penyampaian Wakatimsus Polres Bolmong yakni TA kepadanya untuk menginformasikan kepada Kanit Tipikor dan anggota unit Tipikor untuk bersepakat membantu menuntaskan kasus MMS agar dapat di SP3. “Keterlibatan kami saat diminta untuk menyampaikan pesan Kasat Reskrim melalui Wakatimsus, agar berkomunikasi dengan MMS terkait rencana SP3,” beber Paputungan.
Menurut dia, hal itu sengaja dibuka karena dirinya sebagai Ketua LITPK, dituduh oleh tersangka FLS, bersekongkol dengan unit Tipikor melakukan pemerasan kepadanya. “Sehingga atas dasar itu, masalah ini saya buka ke publik. Karena saya pun merasa dibohongi dan menjadi korban penyidik. Saya bukan mediator kasus itu, tapi saya diminta langsung oleh tim unit Tipikor untuk menyampaikan pesan, ini momen pembuktian terhadap kinerja Polres Bolmong,” jelasnya.
Bahkan kata Paputungan, tidak sedikit pejabat di Bolmong Raya yang saat ini bermasalah hukum, juga mengeluh kepada LITPK tentang perlakuan penyidik Polres Bolmong. Seperti pejabat yang terjerat kasus Rp12 milyar, kasus audiens Bupati Bolmong, kasus MaMi Boltim, dan masalah ganti rugi lahan PT JRBM. “Itulah yang menjadi motivasi saya untuk melakukan investigasi, agar terjawab apa yang menjadi keluhan mereka. Dengan fakta ini, Kapolda perlu melakukan pembenahan di unit empat Tipikor Polres Bolmong,” ujar Paputungan. Ketika ditanya jika kedepan dirinya dijadikan tersangka karena terlibat dalam penjemputan uang dirumah MMS, Paputungan menegaskan itu adalah resiko tugasnya. “Apalagi saya ini hanya warga sipil. Hal itu saya serahkan sepenuhnya ke proses hukum jika memang terjadi,” tandasnya.
Diketahui, informasi yang didapat, MMS ditangkap di Jakarta oleh penyidik Polres Bolmong pada Sabtu (29/5) pekan lalu saat berbelanja di salah satu swalayan di Jakarta. MMS kemudian dibawa ke Manado dan masih sempat menginap satu malam di rumahnya di Desa Tateli, Kecamatan Pineleng Minahasa, kemudian dibawa ke Kotamobagu. MMS langsung digiring ke ruangan Pidana Khusus (Pidsus) Polres Bolmong guna dilakukan pemeriksaan lanjutan secara tertutup. Selama hampir empat jam diperiksa Ketua DPD II Partai Golkar Bolmong itu akhirnya keluar dari ruangan.
Kemudian pada Senin (1/6) awal pekan, sekitar pukul 08.30 Wita, Bupati Bolmong dua periode tersebut diserahkan ke Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kotamobagu Ivan Barmuli SH oleh Kasat Reskrim Polres Bolmong AKP Iver Son Manossoh SH dan Kanit Tipikor Aipda Poldi Sihotang serta dikawal sejumlah aparat kepolisian. Saat itu MMS diantar sejumlah keluarga, kerabat serta pengacaranya. Tampak juga mendampingi putra kesayangan MMS, Anggota DPR RI Aditya Didi Moha (ADM).
Sementara itu, MMS melalui kuasa hukumnya Ferry Dilapanga mengatakan, selaku warga negara yang taat hukum, kliennya menghargai proses hukum. "MMS belum ditahan karena ini baru disangka. Dan masih ada tentu yang akan kita penuhi,” kata Dilapangan yang juga sempat menjadi kuasa hukum FLS.(yede)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment