Berita Terbaru

Wednesday, June 3, 2015

Bulan puasa, Walikota Manado: Harga sembako dalam kendali pemerintah
by donwu - 0

Walikota Manado GS Vicky Lumentut didampingi Asisten II Rum Usulu,
saat memantau ketersediaan sembako di Pasar Karombasan.(foto: donny/sk)
Manado-Jelang bulan puasa atau bulan suci Ramadhan yang akan dijalankan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Manado, membuat para ibu rumah tangga (IRT) mulai was-was dengan dampak kenaikan harga bahan baku atau sembilan bahan pokok (sembako) yang sering terjadi setiap tahunnya.
Hanya saja, Walikota Manado GS Vicky Lumentut (GSVL) memastikan bahwa ketersediaan sembako di Manado tetap terpenuhi. “Jelang puasa, seperti biasanya kita akan pantau ketersediaan sembako di pasaran. Kita akan memastikan ketersediaan cukup dan harga masih dalam kendali pemerintah,” ujar Walikota saat melakukan pantauan di Pasar Pinasungkulan, Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, Senin (1/6) lalu. Saat itu Walikota didampingi Asisten II bidang Perekonomian Rum Usulu, Ketua Dekot Noortje Van Bone dan Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Dekot Deasy Roring.
Meski demikian, Walikota tetap meminta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk memperhatikan pasokan kebutuhan pokok menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah. "Puasa dan Lebaran sudah dekat, dan pelayanan kebutuhan pokok rakyat harus betul-betul dihitung, mulai dikalkukasi supaya terpenuhi," tegas GSVL, seraya mengingatkan SKPD terkait agar memantau terus pasar, baik tradisional maupun swalayan terkait beredarnya beras berbahan plastik di sejumlah daerah di Indonesia. “Semoga beras plastik ini tidak masuk Manado, tetapi saya minta kepada pedagang maupun pembeli supaya melaporkan jika ditemukan adanya beras plastik itu,” tukas GSVL.
Seperti biasanya, saat bulan Ramadan sebenarnya pola konsumsi masyarakat yang menjalani ibadah puasa mengalami perubahan. Jika di hari biasa manjalani aktivitas makan tiga kali sehari maka di hari puasa menjadi dua kali sehari. Namun, meski terjadi pengurangan, biasanya masyarakat menambah porsi konsumsi. Hal tersebut membuat pengeluaran tetap bahkan bisa bertambah, karena lebih konsumtif.
Akibatnya, tak ada penghematan dengan pola konsumsi seperti itu. Harusnya dengan jumlah konsumsi yang berkurang menjadi dua kali bisa berhemat sehingga kenaikan harga barang pokok tidak akan begitu terasa. Untuk menyikapinya maka masyarakat harus meninggalkan kebiasaan tersebut. Pasalnya, jika pola konsumsi tersebut terus dibiarkan maka akan menambah beban.(dewe)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment