Berita Terbaru

Sunday, May 18, 2014

WCRC lahirkan “Manado Komunike”
by RONAL ROMPAS - 0

Gubernur Sulut, DR Sinyo Harry Sarundajang
Manado—Pelaksanaan iven internasional World Coral Reef Confrence (WCRC) yang dilaksanakan di Manado belum lama ini, sukses melahirkan 'Manado Komunike' yang merupakan kesepakatan bersama dari 6 negara yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative (CTI) yakni, Indonesia, Papua New Gunea, Salomon Islands, Malaysia, Philipina dan Timor Leste, secara bersama-sama mengembangkan potensi pembangunan dengan tetap menjaga dan memelihara kelestarian dan keseimbangan lingkungan. Hal tersebut dikatakan Gubernur Sulut, DR Sinyo Harry Sarundajang, saat penutupan pelaksanaan iven WCRC, di Gedung Grand Kawanua Novotel Manado, Jumat (16/5) lalu. “Komunike Manado dirancang sebagai kesepakatan untuk mengelola terumbu karang secara berkelanjutan, termasuk juga aktivitas pemanfaatannya. Adapun beberapa hal yang tertuang dalam Komunike Manado tersebut yakni antara lain melindungi dan mengelola keanekaragaman hayati biota laut secara berkelanjutan, pentingnya peran ekosisten terumbu karang untuk menjamin ketahanan pangan dan nutrisi, karena terumbu karang dan ekosistimnya dapat mencegah panas bumi yang berpengaruh terhadap ketersediaan pangan dunia,” jelas Sarundajang.
Dirinya mengatakan, perlu pengembangan sumber daya manusia, kelembagaan, penyuluhan dan pelatihan untuk memperkuat teknologi pengolahan terumbu karang dan yang tak kalah pentingnya adalah yakni peran wanita dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang.
Ditekankan Sarundajang, sebagai salah satu negara yang berada di kawasan segitiga terumbu karang, Indonesia terutama Sulut harus terus berupaya untuk melindungi dan mengelola keanekaragaman hayati biota laut secara berkelanjutan. Upaya yang dilakukan salah satunya dengan mendukung pengembangan, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan melalui prinsip pendekatan investasi yang berbasis pada investasi kreatif inovatif dan berprinsip pada kerangka Blue Economy. “Dilaksanakannya WCRC di Manado telah membuat Sulut khususnya Kota Manado semakin dikenal di mata dunia, terlebih ketika pelaksanaan WCRC ini berlangsung dengan sukses, akan memberikan multyplayer effect terhadap kegiatan perekonomian masyarakat yaitu mampu meningkatkan kinerja sektor pariwisata dan industri lainnya sebagai pendukung seperti destinasi pariwisata, industry kecil menengah, perdagangan, perhotelan, restoran dan transportasi, juga berpengaruh terhadap perbankan dan manufactur,” terangnya.
Sektor tersebut menurutnya telah memiliki keterikatan erat satu dengan yang lain. Berkembangnya sektor pariwisata, dalam arti meningkatnya kunjungan wisatawan pada suatu daerah memberikan peluang dikenalnya produk-produk unggulan daerah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perdagangan serta masuknya investasi. “Sukses pelaksanaan WCRC ini merupakan kelanjutan dari sukses pelaksanaan acara-acara internasional sebelumnya, seperti World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative Summit (CTI Summit), serta Sail Bunaken pada 2009 lalu. Demikian juga pelaksanaan ARF Direx (2011). Hal ini merupakan bukti dari kemampuan dan peranan Sulut dengan dukungan pemerintah pusat untuk melaksanakan acara-acara berskala global, dengan berbagai persiapan-persiapan dan upaya strategi diplomasi menembus pentas lokal, nasional dan internasional,” ungkapnya.
Kesuksesan pelaksanaan acara Internasional ini pun telah memberikan implikasi trust and regocnition  (kepercayaan dan penghargaan) internasional atas prestasi Sulut dan Indonesia secara keseluruhan, dan mampu menjadi momentum strategis untuk perkembangan dan kemajuan Sulawesi Utara ke depan dalam mewujudkan Sulut sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia di Asia Pasifik. “Iven-iven internasional yang dilakukan di Sulut telah membawa angin perubahan terhadap iklim berinvestasi yang pada gilirannya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat dan mampu menyerap tenaga kerja lokal. Karena secara kasat mata dapat dilihat dari perkembangan Sulut secara keseluruhan dan Kota Manado pada khususnya, yang termasuk daerah yang dengan pertumbuhan tercepat dengan pusat-pusat bisnisnya yang semakin menggeliat,” tandas Sarundajang, seraya berharap dengan kerja keras dan inovasi tiada henti, maka cita-cita seluruh masyarakat Sulut, dalam rangka mewujudkan Sulut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia dan pintu gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik dapat segera diwujudkan.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sharif Cicip Sutardjo mengatakan WCRC kukuhkan Manado Sulut sebagai Ibukota terumbu karang dunia. Potensi kelautan Sulut yang sangat besar terutama kekayaan dan keanekaragaman terumbu karang yang mencakup sepertiga dari luas dunia adalah tandanya.
Selain itu penetapan Manado sebagai lokasi sekretariat regional permanen CTI-CFF pada pertemuan kelima tingkat dewan menteri lalu, makin mengukuhkan hal tersebut. “Tahun ini Manado kembali menjadi lokasi penyelenggaraan konferensi kelautan tingkat dunia, setelah pertemuan sebelumnya pada tahun 2009, itu juga menjadi tanda pengukuhan Manado,” kata Sutardjo, seraya mengatakan selain memiliki nilai historis tentang konservasi kelautan, Manado juga memiliki letak geografis yang strategis dimana letaknya berada tepat di pusat kawasan segitiga terumbu karang serta merupakan kota yang paling dekat dengan negara-negara anggota CTI-CFF, yakni Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Salomon.
Hal senada dikatakan pakar Kelautan dan Perikanan, Charles Keppel menyatakan bahwa pelaksanaan WCRC di Manado-Sulut telah mampu meningkatkan aktifitas perekonomian Sulut dengan meningkatnya pembangunan hotel, sewa kendaraan, pengunjung restoran, penjualan souvenir yang secara tidak langsung meningkatkan pendapatan petani dan nelayan serta masyarakat, kemudian para pengambil kebijakan, yaitu pemerintah dan pemimpin organisasi internasional akan lebih memahami peran dan fungsi terumbu karang bagi perairan dan kehidupan umat manusia. “Kedepan harus diupayakan bahwa Komunike Manado dapat ditingkatkan untuk disepakati secara internasional melalui keputusan PBB, karena jika Komunike Manado ditetapkan secara internasional, maka akan membuat nama Manado-Sulut lebih dikenal dunia,” ungkapnya, sembari mengusulkan perlu terus adanya upaya-upaya menyangkut pengendalian perusakan, penyelamatan dan rehabilitasi terumbu karang melalui metode dan teknologi terkini yang ramah lingkungan seperti penggunaan reef ball dan peningkatan jumlah dan luas areal kawasan-kawasan konservasi yang telah ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, melaui pakar ekonomi Sulut DR Vecky Masinambouw menyatakan bahwa pelaksanaan WCRC ini membuat mata dunia tertuju ke Manado karena kegiatan yang dilakukan menyangkut masalah yang hangat di bahas yaitu, penyelamatan lingkungan hidup, karena dari sisi ekonomi dalam perdagangan internsional ‘green produck’ akan menjadi suatu syarat transaksi perdagangan tersebut bisa dilaksanakan, diharapkan ketika even ini terlaksana melalui forum bisnisnya, maka akan terjadi transaksi perdagangan luar negeri yang membuat ekonomi Sulut semakin bergairah. “Di satu sisi iven-iven internasional yang dilaksanakan di Sulut akan semakin memantapkan penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) karena akan semakin membuka peluang investasi dan meningkatkan perekonomian daerah,” singkat Masinambouw. (mld)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment