Berita Terbaru

Monday, May 12, 2014

HIV-AIDS di Sulut sentuh 1.486 jiwa
by RONAL ROMPAS - 0

PARA wartawan pos Pemprov Sulut saat mengikuti pembekalan pencegahan HIV-AIDS di ruangan rapat Wagub Sulut (foto:ismail/sk)
Manado—Mencegah terjadinya kasus baru pengidap virus HIV-AIDS, maka oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulut yang bekerja sama dengan KPA Nasional bersama KPA Manado dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut, menggelar temu media pembekalan pemberitaan HIV-AIDS dengan wartawan pos liputan Pemprov Sulut.
Sekertaris KPA Sulut, dr Tangel Kairupan melalui Pengelola program KPA Sulut, Jones Oroh mengatakan, dari data yang diterima KPA Sulut dari Dinkes Sulut, mulai tahun 2007 sampai bulan Februari 2014 lalu, tercatat secara akumulasi total angka pengidap HIV-AIDS di Sulut mencapai angka sebanyak 1.486 jiwa dengan perincian untuk HIV sebanyak 530 jiwa dan 956 adalah pengidap AIDS. “Rata-rata pengidap HIV-AIDS di Manado usia produktif antara 20 sampai 49 tahun. Untuk data bulan Maret masih terus dirampungkan secara teliti dan sangat hati-hati dalam menentukan pengidap yang positif tertular HIV-AIDS dimana ini juga sangat sensitif sekali karena berhubungan dengan privasi pasien,” terang Oroh pada pertemuan hari pertama dengan sejumlah wartawan di ruang rapat Wakil Gubernur Sulut, Jumat (9/5) lalu.
Pencegahan utamanya adalah menggunakan kondom baik pria maupun wanita. Hal tersebut dikarenakan selain memberi keamanan bagi pasangan yang belum terinfeksi HIV-AIDS maupun yang sudah positif terinfeksi. “Bagi pasangan yang sudah positif terinfeksi HIV-AIDS, penggunaan kondom ini juga sangat penting. Karena virus yang ada pada masing-masing pasangan itu berbeda. Belum tentu, si A jenis HIV-AIDS-nya sama dengan si B. Oleh karena itu, ini juga yang membuat penemuan obat-obatannya susah ditemukan, walaupun di negara China yan terkenal dengan ramuan herbalnya pun sampai saat ini belum mampu menemukan obat HIV-AIDS itu,” jelasnya.
Sementara itu, pada pertemuan kedua, Sabtu (10/5) pekan lalu, disampaikan KPA Nasional, Tri Irwanda, penyebab penularan HIV-AIDS di Indonesia rata-rata diakibatkan pertukaran cairan tubuh seperti, melalui transfusi darah secara langsung, cairan sperma pria dan wanita saat melakukan hubungan sex langsung dan juga melalui Air Susu Ibu (ASI) yang berdampak kepada bayi. “Berhubungan sex secara sodomi pun sangat rawan penularannya. Selain itu, terjadi pula pada pengguna aktif narkoba yang memakai jarum suntik,” ungkap Irwanda.
Karenanya, sosialisasi pencegahan penularan virus HIV-AIDS dan bentuk penulisan serta publikasi media sangat penting diperhatikan, karena sensitif bagi pasien pengidap HIV-AIDS. ”Masyarakat harus tahu apa itu HIV-AIDS dan bagaimana penyebab serta dampaknya. Nah, untuk penulisan publikasi media pun harus kita jaga, misalkan dalam penayangan di TV, koran mapun Online, gambar wajah pasien seharusnya di blur atau tidak di publis secara terang-terangan,” jelasnya.
Wakil Gubernur Sulut, DR Djouhari Kansil MPd, melalui Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sulut, dr Grace Punuh menjelaskan, peran media dan pemerintah sangat penting, dimana Pemprov Sulut juga melalui sejumlah instansi terkait seperti, KPA, Dinas Perhubungan dan Informasi Komunikasi (Dishubinfokom), Pariwisata, Sosial, Pendidikan, BP3A serta LSM terkait, sangat gencar melakukan sosialisasi dan pencegahan HIV-AIDS melalui penyebaran alat kontrasepsi atau kondom di tempat-tempat hiburan malam di Manado. “Nah, ini salah satu upaya kami untuk mencegah kasus baru HIV-AIDS dengan menanamkan prinsip 'No Condom No Sex' yang diterapkan di perhotelan, cafe dan pusat-pusat hiburan malam,” ungkap Punuh, sembari mengatakan tidak menutup kemungkinan ada mungkin dari salah satu keluarga, kerabat serta sahabat dekat kita sendiri sudah tertular, tapi menutup diri dengan tidak mau datang memeriksakan diri.
Hadir juga dalam kegiatan tersebut, unsur perwakilan dari Mahasiswa, komunitas peduli HIV-AIDS juga dua pasien pengidap HIV-AIDS. (mld)
« PREV
NEXT »

No comments

Post a Comment